Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Sumba Barat Daya
Aktivitas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ramadana, Kecamatan Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya, siang itu berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut meja persiapan, Frederick Norewa tampak sigap memotong ayam dan menyiapkan aneka sayuran untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya potong ayam kalau ada menu ayam, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang putih dan bawang merah juga,”ujar Frederick dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 15 Februari 2026.
Frederick merupakan bagian dari tim persiapan dapur MBG. Tugasnya memastikan seluruh bahan makanan siap diolah sebelum dimasak dan didistribusikan kepada para penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita.
Namun, perjalanan hidup pria asal Desa Letekonda itu tidak selalu berjalan mulus.
Masa Lalu yang Kelam
Pada 1991, Frederick terseret kasus penganiayaan berat akibat sengketa batas tanah dengan kerabatnya. Perselisihan yang bermula dari adu mulut berujung pada tindak kekerasan.
“Awalnya hanya bersilat lidah, saling ancam. Waktu kejadian, mereka empat orang, saya sendiri. Saya takut dan terjadi hal yang tidak diinginkan,”ucapnya.
Pengadilan menjatuhkan vonis delapan tahun penjara. Setelah mengajukan keringanan dan mendapat remisi, ia menjalani hukuman selama empat tahun enam bulan.
Peristiwa itu kini telah diselesaikan secara adat. Hubungan dengan pihak keluarga yang berselisih pun kembali membaik. “Sudah damai secara adat,” ujarnya singkat.
Bertahan Hidup dengan Serba Tak Pasti
Setelah bebas, Frederick kembali ke desa dan bekerja serabutan. Ia mengandalkan hasil kebun dan sesekali menjadi buruh bangunan.
“Kalau kerja bangunan, upahnya sekitar Rp60 ribu sampai Rp80 ribu per hari, itu pun kalau ada panggilan,”jelasnya.
Penghasilan dari kebun pun tidak menentu. Dalam setahun, ia memperkirakan hanya memperoleh sekitar Rp7–8 juta, tergantung hasil panen dan kondisi cuaca.
“Kalau hujan tidak bagus, panen juga tidak bagus. Alam yang menentukan,”lanjutnya.
Sebagai mantan narapidana, ia mengakui tidak mudah memulai kembali kehidupan sosial. Meski demikian, ia memilih menjalani semuanya dengan lapang dada.
“Secara pribadi memang sulit, tapi bagaimanapun saya harus jalani,”tambahnya.
Kesempatan Kedua Lewat MBG
Kesempatan itu datang ketika ia melihat bangunan dapur MBG berdiri tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia memberanikan diri menawarkan tenaga, dan diterima bekerja.
“Saya bersyukur, sekalipun mantan narapidana, masih diterima bekerja di sini,”lanjutnya.
Sejak bergabung dengan dapur MBG, hidup Frederick perlahan menjadi lebih stabil. Ia memperoleh insentif rutin setiap bulan, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia rasakan saat bergantung pada pekerjaan musiman.
“Kalau di kebun, tidak tahu hasilnya bagaimana. Di sini saya tinggal menunggu jadwal insentif,”tuturnya.
Ia juga merasakan kebanggaan tersendiri karena turut berkontribusi menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak di desanya. Frederick memahami betul kondisi sebagian anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan.
“Kadang anak-anak pergi sekolah tanpa makan. Bisa lemas, bahkan pingsan,” kata Frederick.
Menurutnya, kehadiran MBG membawa perubahan suasana di lingkungan sekolah. Anak-anak terlihat lebih bersemangat, dan para orang tua merasa terbantu.
“Mungkin lewat MBG ini anak-anak jadi senang. Orang tua juga sangat senang,”ungkapnya.
Harapan untuk Keberlanjutan
Di akhir perbincangan, Frederick menyampaikan harapannya agar program tersebut terus berlanjut.
“Terima kasih kepada Pak Presiden Prabowo Subianto atas adanya program MBG ini. Harapan saya, siapapun presidennya nanti, program ini tetap berlanjut,”pungkasnya.
Bagi Frederick, dapur MBG bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di balik uap masakan dan hiruk pikuk persiapan makanan, ia menemukan kesempatan kedua untuk menata hidup dan berdamai dengan masa lalu.
Editor: Redaktur TVRINews





