FAJAR, BANDUNG – Kasus pembunuhan sadis yang menimpa ZAAQ (14), siswa SMPN 26 Bandung, akhirnya terungkap. Remaja berusia 16 tahun berinisial YA diketahui menjadi otak di balik aksi keji ini.
YA sempat menyusun skenario palsu. Dia merekayasa chat penculikan di ponsel korban demi mengelabui pihak kepolisian.
Jasad korban ditemukan di lahan terbengkalai eks Kampung Gajah pada Jumat, 13 Februari 2026, setelah sebelumnya dilaporkan hilang sejak awal pekan. Polisi bergerak cepat dan berhasil meringkus YA (16) bersama rekannya AP (17) di Garut pada Sabtu malam, 14 Februari 2026.
Gunakan Ponsel Korban
Sebelum tabir gelap ini terungkap, publik sempat dihebohkan dengan tangkapan layar pesan WhatsApp yang diklaim berasal dari korban. Dalam pesan tersebut, korban seolah-olah mengabarkan bahwa dirinya sedang diculik oleh dua orang pria menggunakan mobil.
Namun, Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra memastikan bahwa pesan tersebut adalah murni rekayasa pelaku.
“Informasi soal penculikan itu sengaja dibuat oleh pelaku menggunakan ponsel korban yang sudah mereka kuasai. Tujuannya jelas, untuk mengaburkan jejak dan menyesatkan penyelidikan,” tegas AKBP Niko.
Pihak kepolisian meyakini bahwa ZAAQ sebenarnya sudah tewas pada Senin sore, 9 Februari 2026. Tak lama setelah pelaku mengirimkan pesan palsu tersebut untuk menciptakan alibi penculikan.
Eksekusi Terencana
Penyelidikan mengungkap bahwa YA dan AP sengaja berangkat dari Garut ke Bandung memang dengan niat jahat. YA bahkan sudah menyiapkan senjata tajam dari rumah. Mereka menemui korban di area eks objek wisata Kampung Gajah yang gelap dan jauh dari keramaian.
Di lokasi tersebut, aksi brutal terjadi. Pelaku YA memukul kepala korban dengan botol sebelum akhirnya menghujamkan pisau sebanyak delapan kali ke bagian perut korban hingga tewas di tempat.
Jasad korban kemudian ditinggalkan begitu saja di semak-semak hingga akhirnya ditemukan oleh warga yang sedang melakukan siaran langsung di media sosial.
Sakit Hati akibat Putus Pertemanan
Meski dilakukan dengan sangat rapi dan sadis, motif di balik pembunuhan ini ternyata dipicu oleh masalah sepele. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka YA mengaku merasa sakit hati yang mendalam terhadap korban.
“Pelaku merasa tersinggung dan sakit hati karena korban menyatakan ingin mengakhiri hubungan pertemanan mereka. Pernyataan sikap korban inilah yang memicu pelaku merencanakan pembunuhan tersebut,” tambah AKBP Niko.
Kini, YA dan AP harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Meski keduanya masih berstatus anak di bawah umur, polisi mengategorikan kasus ini sebagai pembunuhan berencana.
Hal ini karena adanya persiapan senjata tajam dan upaya sistematis untuk menghilangkan jejak melalui rekayasa pesan singkat.
Pelaku sempat mencoba melarikan diri ke Tasikmalaya sebelum akhirnya tertangkap di wilayah Garut. Saat ini, keduanya masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Cimahi untuk pendalaman lebih lanjut. (*)





