GenPI.co - Gema boikot produk asing di China mulai kehilangan taringnya seiring dengan perubahan prioritas warga yang lebih memilih kualitas dan gaya hidup ketimbang narasi nasionalisme.
Nasionalisme tidak lagi otomatis menentukan pilihan konsumsi.
Analis konsumen independen Yaling Jiang mengatakan geopolitik tidak sepenuhnya menentukan perilaku pasar di tingkat lokal.
"Konsumen China kini lebih pragmatis. Mereka mencampur merek domestik dan asing sesuai selera," ujarnya, dilansir AP News, Sabtu (14/2).
Ketegangan dengan Jepang, misalnya, mencuat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memberikan pernyataan terkait kemungkinan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Beijing mengambil langkah pembatasan perdagangan dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi wisatawan China ke Jepang.
Dampaknya terasa pada industri pariwisata Jepang dengan penurunan signifikan jumlah wisatawan asal China.
Namun, antusiasme terhadap produk dan budaya Jepang tidak sepenuhnya surut.
Gerai jaringan sushi asal Jepang, Sushiro, tetap dipadati warga China.
Situasi serupa terlihat dalam hubungan China dan Amerika Serikat.
Ketegangan terkait tarif, Taiwan, dan isu lainnya tidak serta-merta membuat konsumen China menjauhi merek dari AS.
Film animasi Zootopia 2 produksi Walt Disney Studios justru sukses besar di China.
Di sektor fesyen, Ralph Lauren mencatat pertumbuhan penjualan yang lebih cepat di China dibandingkan Eropa atau Amerika Utara.
Citra kemewahan yang tenang dan kualitas produk dinilai lebih berpengaruh dibanding asal negara merek tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi membeli semata-mata karena label domestik atau asing.
Warga China lebih memprioritaskan kualitas, nilai, dan kesesuaian dengan gaya hidup. (*)
Simak video berikut ini:





