Adaptasi bagi ekspatriat dapat dikatakan sebagai kunci keberhasilan dari keefektifan pelatihan yang ditugaskan oleh perusahaan multinasional kepada individu untuk berkesempatan mempelajari dan mengembangkan keahlian dari lintas budaya. Namun, pada kenyataannya banyak dari ekspatriat yang gugur yang disebabkan bukan karena kurangnya kompetensi melainkan ketidakmampuan dalam beradaptasi.
Dikutip dari Expat Focus, terdapat sejumlah kegagalan dalam penugasan. Pada negara maju tingkat kegagalan mencapai sekitar 25%-40% sementara untuk negara berkembang melonjak mencapai hingga 70%. Angka tersebut cukup membuktikan untuk seharusnya permasalahan terkait adaptasi segera perlu diperhatikan.
Kegagalan dalam penugasan bukan hanya akan ditanggung oleh ekspatriat namun perusahaan juga akan mengalami kerugian secara finansial. Berdasarkan oleh laporan Pengembalian Investasi yang dipimpin oleh Ipsos dan dikembangkan bersama KPMG, menunjukkan bahwa biaya penugasan internasional yang gagal dapat mencapai hingga USD 1,25 juta.
Pada pembiayaan karyawan perusahaan biasanya menyesuaikan dengan tunjangan internasional, hal ini memiliki angka yang lebih tinggi 2-3 kali lipat daripada gaji pada umumnya. Selain itu, Biaya lainnya seperti biaya relokasi, pelatihan lintas budaya dan biaya rekrutmen seringkali ditanggung oleh perusahaan.
Ketidakmampuan dalam beradaptasi menjadi faktor utama yang menyebabkan kegagalan pelatihan ekspatriat. Ini dapat disebabkan karena kesulitan ekspatriat dalam membaur dengan budaya baru, mencakup tantangan dalam berkomunikasi dengan bahasa lintas budaya, ketidakcocokan dengan gaya atau pola kerja lokal, faktor lainnya bisa disebabkan oleh internal dari personal. Akibatnya ekspatriat tidak cukup mampu menghadapi kenyataan kerja yang dampaknya pada stres, burnout dan depresi yang langsung berpengaruh pada penurunan kinerja.
Dalam sebuah literatur oleh John O. Okpara a & Jean D. Kabongo, diperkirakan sekitar 10-80% ekspatriat yang ditugaskan ke luar negeri kembali ke negara asalnya sebelum pada waktunya. Dan di antaranya disebabkan oleh ketidaknyamanan ekspatriat dengan budaya setempat. Fenomena ini dikenal dengan istilah "Shock Culture" atau kondisi seseorang yang melibatkan psikologi seperti merasa kebingungan dan ketakutan tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan atau budaya baru.
Cross-Cultural Training atau lebih kerap disebut dengan CCT adalah program pelatihan ekspatriat yang diberikan oleh perusahaan, tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi kondisi yang melibatkan lintas budaya yang mana ini berkorelasi positif dengan kinerja. ini merupakan bentuk antisipasi kegagalan adaptasi.
Meskipun banyak dari perusahaan telah mengakui seberapa pentingnya pelatihan lintas budaya namun pada prosesnya masih banyak terdapat celah yang menyebabkan keefektifan dalam pelatihan memiliki kekurangan. Dalam mendukung adaptasi hal ini tidaklah mudah, nyatanya pelatihan yang diberikan hanya dapat menyentuh permukaan saja, dengan kata lain tidak untuk hal yang mendalam. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang lebih spesifik sesuai dengan apa yang menjadi pemicu kegagalan adaptasi.
Agar pelatihan ekspatriat berhasil dan membawa dampak baik setelah penugasan, perusahaan perlu mengantisipasi kendala-kendala tersebut. Pada tahap awal sebelum ekspatriat menjalankan penugasan, perusahaan dapat memberikan gambaran melalui pra-penugasan yang meliputi pelatihan untuk mengurangi kebingungan akan budaya asing.
Pelatihan yang diberikan juga seharusnya bukan sekadar teori namun praktik di lapangan supaya maksimal dalam pelaksanaannya. Pada tahap ini, perusahaan dapat memberikan kursus bahasa yang dituju kepada calon ekspatriat, mengenalkan budaya setempat, peraturan dan etika kerja. Kemudian, saat mulai melaksanakan penugasan perusahaan dapat menggunakan sistem pendamping (Buddy System) yang mana ini membantu ekspatriat dengan bantuan karyawan lokal untuk memahami gaya kerja dan membimbing selama penugasan, ini dapat meningkatkan percepatan adaptasi.
Selanjutnya, untuk permasalahan gaya kerja yang berbeda, perusahaan dapat memberikan coaching untuk penyesuaian dengan gaya budaya baru, ini mencakup intruksi, problem solving dengan disesuaikan pada budaya kerja setempat dan evaluasi berkala. Selain itu, permasalahan personal atau pribadi yang biasanya meliputi keluarga, perusahaan dapat fokus pada kebahagiaan ekspatriat, dalam penugasan ekspatriat dapat menyertakan keluarga, karena tidak dapat dimungkiri salah satu keberhasilan disebabkan karena faktor keluarga.
Dengan solusi-solusi tersebut, keefektifan pelatihan ekspatriat diukur berdasarkan kenyamanan ekspatriat untuk beradaptasi sehingga perusahaan harus mempunyai planning yang matang mulai dari pembekalan hingga saat eksekusinya untuk mencapai tujuan yang maksimal. Apabila perusahaan mengabaikan proses maka ketika ekspatriat mengalami kegagalan maka akan berisiko menanggung kerugian biaya yang cukup besar. Oleh sebab itu, strategi jangka panjang untuk mempersiapkan ekspatriat yang matang seharusnya dilakukan dari awal persiapan dan konsisten hingga ekspatriat kembali dengan membawa dampak positif.





