JAKARTA, KOMPAS.com – Tradisi ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tetap berlangsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (15/2/2026), meski sebagian area makam masih terendam banjir.
Sejumlah warga memadati area pemakaman sejak pagi hingga sore hari untuk mengunjungi makam dan mengirim doa bagi keluarga serta kerabat yang telah meninggal dunia.
Namun, kekhusyukan doa para peziarah harus beradu dengan kondisi banjir dan lumpur yang merendam puluhan blok makam di TPU Semper.
Baca juga: Sempat Ditertibkan, Parkir Liar di Pecinan Glodok Kembali Muncul Jelang Imlek
Jalan setapak yang licin dan berlumpur akibat hujan juga turut menjadi tantangan tersendiri bagi para peziarah.
Di beberapa blok, terlihat sejumlah makam terendam banjir dengan ketinggian sekitar 10 sentimeter hingga 40 sentimeter.
Bahkan, pada sejumlah titik, genangan air menutup sebagian besar area makam hingga hanya menyisakan batu nisan yang tampak di permukaan.
Banjir Rendam 28 Blok
Ketua Pelaksana TPU Zona 4 Semper, Sukino, mengungkapkan bahwa banjir telah menggenangi area makam TPU Semper selama kurang lebih tiga minggu terakhir.
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Suasana TPU Semper di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, tampak dipadati sejumlah peziarah meskipun terendam banjir menjelang bulan Ramadhan 1447 Hijriyah. Minggu (15/2/2026).
"Penyebab banjirnya ada banyak faktor ya. Salah satunya limpasan Kali Begog. Yang ketika sudah terkurung, airnya enggak bisa balik lagi karena datarannya lebih rendah," jelas Sukino saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Minggu (15/2/2026).
Ia merinci, area yang terdampak cukup luas, mencakup sekitar 28 blad (zona makam), mulai dari blad 30 hingga 50.
Meski beberapa akses jalan sudah mengering, area makam masih tergenang dengan ketinggian bervariasi.
Sukino menjelaskan, pihaknya telah merencanakan solusi penanggulangan banjir secara permanen sejak 2023, yaitu dengan pengurukan makam di blad 40 hingga 50.
Sosialisasi kepada ahli waris pun telah dilakukan, namun proyek tertunda karena keterbatasan material.
"2023 itu saya mengundang ahli waris untuk sosialisasi pengurukan. Cuma tanahnya enggak ada," ucap Sukino.
Sebagai penanganan jangka pendek, pengelola berkoordinasi dengan Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk memompa air keluar dan membuat sodetan sebagai jalur aliran air.