JAKARTA, KOMPAS.com – Parkir liar sejumlah mobil derek swasta di bahu Jalan Haji Lebar memicu keresahan warga. Kendaraan berat yang memakan badan jalan itu dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan dan dibiarkan berlangsung lama tanpa penertiban.
Mobil-mobil derek tersebut terparkir di kawasan Meruya Selatan, tepatnya di wilayah Jakarta Barat. Warga mempertanyakan sikap aparat dan petugas terkait karena praktik parkir liar itu disebut sudah terjadi bertahun-tahun tanpa tindakan tegas.
Pembiaran yang berlarut-larut ini memunculkan kecurigaan warga akan adanya praktik pungutan liar yang melibatkan oknum tertentu. Dugaan itu muncul karena truk-truk derek tetap aman terparkir meski jelas melanggar aturan lalu lintas dan mengganggu keselamatan.
Baca juga: Warga Meruya Selatan Protes Mobil Derek Parkir Liar di Jalan Permukiman
"Harusnya ditertibkan lah, kalau enggak ditertibin gini kan jadi pertanyaan, dia bayar ke siapa? Kan enggak mungkin dia asal parkir, pasti nyetor (uang)," kata Wahyu (44), warga sekitar, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (16/2/2026).
Wahyu menyebutkan, mobil-mobil derek tersebut bukan milik pemerintah, melainkan milik perusahaan swasta yang terdaftar resmi. Namun, ia tidak mengetahui alasan armada tersebut tidak memiliki garasi sendiri dan justru menggunakan jalan umum sebagai lokasi parkir.
"Enggak tahu punya siapa, tapi bukan dereknya Dishub deh kayaknya. Derek swasta, tapi tulisannya resmi, yang biasa ke sini mah sopirnya doang kan," ujar Wahyu.
Menurut dia, jumlah mobil derek yang parkir tidak selalu sama. Pada waktu-waktu tertentu, kendaraan yang berjajar di bahu jalan bisa mencapai lima hingga enam unit.
Ia menduga keterbatasan lahan parkir menjadi alasan utama armada derek tersebut menggunakan jalan umum. Sebagian kendaraan disebut pernah diparkir di sekitar Universitas Mercu Buana, tetapi daya tampung lokasi tersebut sangat terbatas.
"Di depan Mercu situ ada lahan suka dipakai parkir, tapi cuma dikit yang muat. Sisanya di sini, berjejer macam di showroom," ucapnya.
Baca juga: Kontainer Jeblos di Jakbar Belum Dievakuasi hingga 12 Jam, Derek Dishub Tak Mampu Angkat
Macet dan bahaya di tikunganSelain persoalan perizinan, posisi parkir mobil derek dinilai sangat berbahaya. Jalan beton dengan lebar sekitar lima meter menjadi semakin sempit karena sebagian badan jalan tertutup kendaraan berat.
Pengendara dari arah Meruya Selatan yang hendak menuju putaran balik di kolong tol terpaksa bergeser ke lajur berlawanan arah. Risiko kecelakaan meningkat karena lokasi parkir berada tepat di tikungan dan minim penerangan pada malam hari.
"Bahaya, bahaya banget menurut saya. Soalnya kalau yang nyetir enggak fokus, pas belok bisa nubruk, mana banyakan emak-emak. Bikin macet juga ini kan makan jalan," tutur Wahyu.
Sebelumnya, keluhan serupa juga mencuat di media sosial. Dalam unggahan akun Instagram kabar_meruyaselatan, warga menyoroti jalan umum yang digunakan sebagai pangkalan mobil derek.
"Warga mengeluhkan jalan umum digunakan sebagai pangkalan mobil derek tol. Mobil dinilai sangat membahayakan karena posisi parkir di tikungan dan bikin macet saat jam ramai antar jemput sekolah," tulis keterangan unggahan tersebut, dikutip Senin (16/2/2026).
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi pada Senin pagi, terdapat tiga mobil derek yang terparkir di sisi Jalan Haji Lebar. Jalan tersebut merupakan akses utama kawasan permukiman yang berada di samping Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, dengan lebar sekitar lima hingga enam meter.
Baca juga: Jasa Marga Perbanyak Mobil Derek Selama Mudik Lebaran, Gratis Antar ke Exit Tol
Ketiga truk derek tampak terparkir berderet memanjang di bahu jalan dan memakan hampir separuh badan jalan beton pada satu lajur. Beberapa di antaranya merupakan truk derek jenis towing berwarna biru-putih dengan stiker bertuliskan "Unit Derek Resmi" di kaca depan.
Keberadaan kendaraan-kendaraan berat ini membuat ruang gerak pengguna jalan lain menjadi sangat terbatas, terutama bagi pengendara yang melintas dari arah Jalan Meruya Selatan menuju putaran balik di kolong tol.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




