JAKARTA, KOMPAS.com – Tembok setinggi 5,3 meter yang roboh ke arah halaman SMPN 182 Jakarta di Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, dipastikan merupakan bagian dari bangunan milik properti besar yang berdiri tepat di samping sekolah tersebut.
Usai kejadian, tampak bangunan megah berlantai tiga dengan dominasi cat putih berdiri tanpa penghuni. Jendela dan pintu bangunan itu belum terpasang, sementara sejumlah noda tampak muncul seiring waktu akibat bangunan yang lama terbengkalai.
Tak hanya bangunan utama, di bagian belakang juga terlihat sebuah bangunan menyerupai musala dengan kubah berwarna emas yang mulai menghitam. Seluruh area itu berada tepat di sisi tembok yang roboh dan berbatasan langsung dengan lingkungan sekolah.
Baca juga: Reruntuhan Tembok Roboh di SMPN 182 Jakarta Masih Dibersihkan
Kepala SMPN 182 Jakarta, Narwan, mengatakan bangunan tersebut sudah berdiri cukup lama namun tak kunjung diselesaikan.
“Kalau bangunan (yang temboknya) roboh itu ada lah kurang lebih lima atau enam tahun. Ini dalam tahap pembangunan tapi tidak terselesaikan,” kata Narwan saat ditemui di lokasi, Senin (16/2/2026).
Sudah miring dan pernah diperingatkanNarwan mengungkapkan, sebelum roboh, kondisi tembok memang sudah terlihat miring dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sekolah. Kekhawatiran itu mendorong pihak sekolah untuk mengambil langkah administratif.
Bersama pihak kelurahan, pimpinan sekolah mengirimkan surat pemberitahuan kepada pemilik bangunan agar segera menindaklanjuti kondisi tembok yang dinilai membahayakan.
Pemilik bangunan merespons dengan menyatakan kesediaan melakukan perbaikan. Bahkan, seorang arsitek sempat dikirim untuk meninjau kondisi struktur tembok tersebut.
Namun, proses perbaikan belum sempat dilakukan hingga akhirnya tembok lebih dulu roboh.
“Sudah bersurat untuk segera diadakan pembenahan. Yang sudah ditindaklanjuti, tapi baru pada pengecekan. Belum sampai ditindak lanjutin sudah roboh,” jelas Narwan.
Baca juga: BPBD DKI Ungkap Penyebab Tembok SMPN 182 Jakarta Roboh
Pasca-kejadian, pihak sekolah telah dipertemukan dengan pemilik bangunan. Dalam pertemuan tersebut, pemilik bangunan menyatakan kesediaannya untuk membangun kembali tembok serta memperbaiki seluruh kerusakan yang dialami pihak sekolah.
Mengingat kegiatan belajar mengajar (KBM) saat ini masih libur, Narwan berharap proses perbaikan dapat diselesaikan sebelum siswa kembali masuk sekolah.
“Anak-anak sesuai jadwal nanti hari Senin tanggal 23 itu baru masuk. Maka saya berharap ini sebelum anak jadwal masuk sudah bersih semuanya,” ujar dia.
Penyebab robohPeristiwa robohnya tembok setinggi 5,3 meter tersebut terjadi pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 11.22 WIB.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Aji, menjelaskan robohnya tembok dipicu oleh kondisi tanah yang tidak stabil.
“Penyebab tembok roboh karena struktur tanah labil atau tanah urukan,” kata Isnawa dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Akibat kejadian itu, saluran air dan sebagian halaman sekolah tertutup material runtuhan. Meski demikian, tidak ada korban jiwa karena tidak ada aktivitas di lingkungan sekolah saat kejadian.
Setelah menerima laporan dari warga, petugas Dinas Sumber Daya Air mulai membersihkan reruntuhan tembok pada pukul 13.00 WIB. Proses pembersihan dilanjutkan pada Senin pagi dengan mengerahkan tiga unit alat berat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5504541/original/092113700_1771241337-IMG_8086.jpg)



