Gaza: Kementerian Kesehatan Gaza, melaporkan sedikitnya 20.000 pasien, termasuk penderita kanker, jantung, dan gagal ginjal, kini terjebak di dalam wilayah enklave tanpa kepastian akses medis.
Kondisi ini terjadi akibat ketatnya pembatasan yang diberlakukan Israel di pintu perlintasan Rafah, meski wilayah tersebut secara teknis telah dibuka kembali.
Banyak warga yang terluka membutuhkan prosedur bedah tingkat lanjut yang tidak tersedia di Gaza karena blokade dan rusaknya sistem kesehatan. Walaupun sisi Palestina dari perlintasan Rafah telah dibuka sejak 2 Februari lalu, jumlah pasien yang diizinkan melintas sangat terbatas dan tidak sebanding dengan kebutuhan medis yang mendesak.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat laporan dari warga yang kembali, yang mengaku diborgol, ditutup matanya, digeledah, hingga diancam setelah melintasi perbatasan.
Organisasi hak asasi manusia Israel, Adalah dan Gisha, mengecam tindakan tersebut sebagai kebijakan pelecehan dan pembatasan melanggar hukum yang mengarah pada pemindahan paksa.
Berdasarkan fase pertama perjanjian gencatan senjata November lalu, Israel berkewajiban membuka penuh perlintasan Rafah. Namun, otoritas Israel dianggap gagal memenuhi ketentuan tersebut. Pembatasan jumlah pelancong dan lambatnya proses evakuasi medis dinilai mengancam ribuan nyawa dan memperparah bencana kemanusiaan di Gaza.
Sebelum perang meletus, perlintasan Rafah dikelola oleh Kementerian Dalam Negeri Gaza dan otoritas Mesir tanpa campur tangan Israel, dengan ratusan orang melintas setiap harinya di kedua arah.
Meski Gaza mengalami kehancuran masif, data menunjukkan sekitar 80.000 warga Palestina telah mendaftar untuk kembali ke wilayah tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap pengusiran. Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, dampak konflik telah mencapai titik ekstrem.
Lebih dari 72.000 warga tewas dan 171.000 lainnya luka-luka dan 90 persen fasilitas sipil hancur dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS. Sementara itu, serangan Israel dilaporkan tetap berlanjut, menewaskan sedikitnya 601 warga Palestina sejak kesepakatan damai ditandatangani.
Kementerian Kesehatan mendesak pembukaan permanen perlintasan Rafah secara reguler dan meminta intervensi internasional guna menjamin hak pasien atas perawatan sesuai hukum internasional. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Langgar Gencatan, Serangan Udara Israel Tewaskan 12 Warga Palestina di Gaza




