Batas defisit APBN Indonesia 2026 dipastikan tetap maksimal 3 persen dari PDB sebagai jangkar utama kebijakan fiskal nasional saat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Pemerintah menempatkan disiplin anggaran sebagai fondasi agar ekspansi ekonomi tidak dibayar dengan risiko fiskal berlebihan.
Kebijakan ini ditegaskan kembali di tengah diskusi publik mengenai ruang belanja negara untuk mendorong pertumbuhan. Kementerian Keuangan menekankan bahwa setiap tambahan belanja akan dihitung berdasarkan kapasitas riil anggaran.
Otoritas fiskal menyatakan pemanfaatan ruang anggaran dilakukan optimal tanpa melewati batas defisit yang diatur undang-undang. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjaga kredibilitas fiskal di mata pelaku pasar dan investor.
Kinerja ekonomi terbaru menjadi salah satu dasar keyakinan pemerintah dalam menjaga strategi ini. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 tercatat 5,39 persen setelah sebelumnya bergerak di sekitar level 5 persen.
Perbaikan tersebut dinilai mencerminkan daya tahan konsumsi domestik dan aktivitas usaha. Pemerintah menilai momentum ini perlu dijaga lewat kombinasi belanja produktif dan reformasi struktural.
Langkah yang ditempuh mencakup percepatan reformasi iklim investasi dan harmonisasi kebijakan fiskal serta moneter. Sinkronisasi kebijakan dipandang penting agar stimulus fiskal tidak menimbulkan tekanan makroekonomi baru.
Berbagai hambatan struktural investasi mulai dipangkas untuk mempercepat ekspansi sektor swasta. Peran swasta diharapkan semakin dominan dalam mendorong penciptaan lapangan kerja dan output ekonomi.
Belanja pemerintah tetap difokuskan sebagai pengungkit pertumbuhan terutama pada sektor prioritas. Peluang pertumbuhan menuju 8 persen dalam beberapa tahun dinilai terbuka namun tidak menjadi alasan melonggarkan disiplin fiskal.
Baca Juga: Perbankan Syariah Dinilai Tak Kompetitif dan Rumit, Purbaya: Ekonomi Syariah Jangan Sekadar Retorika
Data sementara APBN 2025 menunjukkan defisit Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB hingga akhir Desember. Realisasi tersebut melampaui target awal 2,53 persen tetapi masih berada di bawah ambang batas 3 persen.
Defisit di kisaran 2,9 persen disebut sebagai bagian dari strategi kontra-siklikal menjaga pemulihan ekonomi. Proyeksi awal 2026 menempatkan pertumbuhan di rentang 5,5–6 persen seiring indikator makro yang mengarah ke fase ekspansi sehat di Indonesia.





