Kasus Jeffrey Epstein seperti membuka tirai yang selama puluhan tahun dijaga rapat oleh uang dan kuasa. Ia bukan sekadar cerita kriminal tentang seorang predator seksual, namun juga keberanian para korban yang berani bersuara dan jurnalisme yang keras kepala untuk menembus tembok yang dibangun oleh jaringan elite yang saling melindungi.
Nama-nama besar beredar di sekeliling Epstein, dari Bill Clinton hingga Donald Trump, dari Pangeran Andrew sampai para raksasa pebisnis dan akademisi. Banyak di antaranya membantah keterlibatan, namun relasi mereka dengan Epstein tak mudah dibantah. Keberadaan para pesohor itu pula yang membuat skandal Epstein ini begitu lama tak tersentuh.
Hari ini publik dapat membaca ribuan halaman kesaksian, surat elektronik, hingga daftar kontak yang sebelumnya hanya beredar sebagai rumor. Namun akses itu bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia lahir dari pertarungan panjang antara wartawan, pengacara korban, pengadilan, dan aktor politik.
Arsip yang ditutup
Banyak materi yang kini beredar dan diketahui publik berasal dari gugatan perdata yang diajukan saksi kunci sekaligus korban Virginia Giuffre terhadap Ghislaine Maxwell, tangan kanan Epstein. Virginia Giuffre adalah salah satu penuduh utama dalam kasus perdagangan seks yang melibatkan Epstein dan Maxwell. Ia menjadi tokoh kunci dalam mengungkap jaringan eksploitasi seksual tersebut dan kemudian mendirikan organisasi bantuan bagi korban-korban Epstein yang lain.
Kisah Giuffre telah tercatat di Encyclopedia Britannica. Disebutkan, ia dibesarkan di Florida. Pada usia 16 tahun, saat bekerja di klub Mar-a-Lago milik Donald Trump, ia direkrut oleh Maxwell untuk bekerja bagi Epstein dengan dalih menjadi terapis pijat. Giuffre kemudian menuduh Epstein dan Maxwell memaksanya berhubungan seksual dengan sejumlah pria berkuasa, termasuk Pangeran Andrew, tuduhan yang kemudian diselesaikan di luar pengadilan pada 2022.
Giuffre juga menggugat bank JPMorgan Chase atas perannya dalam memfasilitasi keuangan Epstein. Ia memperoleh penyelesaian besar dari beberapa perkara tersebut.
Namun, pada April 2025, Giuffre ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Australia Barat pada usia 45 tahun. Polisi Australia menyatakan kematiannya akibat bunuh diri.
Sekalipun Giuffre telah meninggal, kesaksiannya menjadi katalis bagi penyelidikan global terhadap jaringan Epstein dan menumbuhkan kesadaran publik mengenai perdagangan seks lintas negara. Perjuangan yang tak mudah dan sunyi.
Bertahun-tahun dokumen perkara itu disegel. Nama-nama disamarkan. Publik hanya melihat potongan kecil melalui kebocoran-kebocoran data.
Perubahan itu terjadi perlahan. Organisasi media, lembaga advokasi, dan pengacara berargumen bahwa kepentingan publik jauh lebih besar daripada kebutuhan menjaga kerahasiaan para elite yang disebut. Hakim akhirnya memerintahkan pembukaan bertahap, yang puncaknya membuat ribuan halaman dapat diakses siapa saja.
Ketika orang kini berkata, “dokumennya sudah terbuka,” mereka sering lupa bahwa sebelumnya ia sengaja ditutup.
Jurnalisme menolak berhenti
Pada 2008, Epstein sebenarnya telah diproses hukum. Sebelumnya, pada 2005, polisi di Palm Beach menerima pengaduan dari keluarga seorang remaja yang menjadi korban. Detektif menemukan pola perekrutan gadis di bawah umur untuk “pijat” yang berujung eksploitasi seksual. Jaksa federal mulai terlibat.
Di pengadilan, Epstein akhirnya mengaku bersalah, namun lobi-lobi yang dilakukan membuat dakwaan negara bagian jauh lebih ringan, yaitu meminta jasa prostitusi, bukan melakukan perdagangan seksual. Epstein akhirnya mendapat hukuman penjara singkat dengan fasilitas luar biasa longgar serta perlindungan luas bagi kemungkinan rekan.
Virginia Giuffre yang mendengar kesepakatan itu kemudian berbicara kepada otoritas tentang kejahatan Epstein pada 2009. Ia memberikan pernyataan kepada penyelidik dalam upaya membatalkan kesepakatan hukum Epstein.
Hingga tahun 2015, Virginia Giuffre menggugat Maxwell atas pencemaran nama baik di pengadilan federal New York City. Gugatan muncul setelah Maxwell menyebut tuduhan Giuffre sebagai kebohongan. Lewat proses discovery dalam perkara inilah lahir tumpukan deposisi, email, buku alamat, dan kesaksian yang selama bertahun-tahun berada di bawah segel pengadilan.
Dokumen-dokumen tersebut kemudian menjadi medan pertempuran baru. Organisasi media berulang kali meminta hakim agar arsip dibuka dengan alasan kepentingan publik, terutama karena perkara itu berkaitan dengan jaringan Jeffrey Epstein dan kemungkinan keterlibatan figur berpengaruh.
Namun sebagian besar arsip langsung disegel. Di sinilah paradoks muncul, dokumen ada, tetapi publik tak bisa melihatnya.
Bertahun-tahun kemudian, jurnalis dari Miami Herald, Julie K Brown dan timnya, memutuskan untuk menggali kembali berkas-berkas yang nyaris dilupakan itu. Saat mulai bekerja, Brown menghadapi tembok tebal: publik mengira Epstein sudah dihukum, banyak korban telah lelah, dan berkas hukum tersebar di berbagai tempat dengan sebagian berada di bawah segel.
Namun, mereka berhasil berbicara dengan korban yang sebelumnya tak pernah didengar, dan meyakinkan mereka untuk berani bicara. Mereka menelusuri bagaimana kekuasaan bekerja untuk membungkam kejahatan itu.
Seri laporan mereka berjudul Perversion of Justice pada 2018 ini menunjukkan bagaimana korban diabaikan dan bagaimana kesepakatan 2008 dibuat secara tertutup. Tekanan nasional meningkat hingga akhirnya Departemen Kehakiman AS diperintahkan meninjau ulang keputusan pengadilan.
Setahun kemudian, pada 2019 liputan ini meraih George Polk Award untuk kategori keadilan. Seri laporan tersebut juga menjadi finalis Pulitzer Prize di kategori pelayanan publik, meski tidak menang.
Setahun setelah reportase ini, tepatnya pada Juli 2019, Epstein akhirnya ditangkap kembali oleh jaksa federal di New York. Sebulan kemudian Epstein ditemukan meninggal dunia di penjara. Media pun semakin gencar memburu setiap jejak relasi dalam jejaring skandal Epstein. Permintaan membuka segel pengadilan makin kuat hingga kini jutaan dokumen bisa dibaca publik.
Tanpa keberanian korban dan kerja keras Julie K. Brown dan tim, kasus ini mungkin tak terbuka lebar. Jurnalisme, dalam momen ini, menjalankan fungsi klasiknya, memberi suara pada yang tak punya kuasa, dan menagih pertanggungjawaban pada yang memilikinya.
"Jika kita mengabaikan kejahatan ini, yang menimpa begitu banyak anak, apa artinya itu bagi kita sebagai sebuah bangsa?" ujar Brown, dalam wawancara dengan media lokal di Florida, WLRN, pada 13 Februari 2026 lalu.
Ketika jurnalisme meredup
Sejarah modern berulang kali menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir bukan semata dari parlemen atau pengadilan, tetapi dari ruang redaksi. Skandal Watergate tak mungkin menjatuhkan Richard Nixon tanpa kerja dua reporter Bob Woodward dan Carl Bernstein di The Washington Post selama tahun 1972–1974.
Pengungkapan kekerasan seksual sistemik di industri hiburan yang melibatkan tokoh-tokoh besar kemudian dikenal sebagai #MeToo juga bisa terungkap setelah laporan jurnalis Jodi Kantor dan Megan Twohey di The New York Times tahun 2017. Para jurnalis ini berhasil menunjukkan pola yang berlangsung puluhan tahun: pelecehan, intimidasi, serta penggunaan perjanjian kerahasiaan dan pembayaran diam-diam untuk membungkam korban.
Berulang kali, jurnalisme bekerja sebagai alarm kebakaran demokrasi. Ia berbunyi ketika institusi lain memilih tidur. Namun alarm itu kini nyaris padam.
Model bisnis media kini terancam runtuh. Pendapatan iklan pindah ke platform digital. Ruang redaksi menyusut. Liputan investigasi mahal, lama, dan berisiko hukum. Banyak perusahaan media memilih berita cepat, sensasional, dan murah.
Akibatnya, kerja seperti yang dilakukan dalam kasus Epstein kini semakin berat untuk dilakukan saat ini. Masalahnya, ketika wartawan berkurang, siapa yang bakal menelusuri dokumen? Siapa yang bisa meyakinkan korban untuk bersuara, ketika pengadilan bahkan memutuskan menutup kasusnya? Siapa yang cukup punya waktu untuk menyatukan potongan teka-teki selama bertahun-tahun?
Elite politik memahami melemahnya kekuatan media dan berupaya mempercepat kejatuahnnya, karena itu akan menguntungkan mereka. Sejak pertama kali menjabat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang namanya banyak disebut dalam dokumen Epstein, telah berulangkali menyerang otoritas media. Ya, kekuasaan itu kini tumbuh paling subur ketika pengawasan melemah.
Bayangkan dunia tanpa reporter yang keras kepala. Epstein mungkin tetap menjadi rahasia umum yang tak pernah menjadi kebenaran publik. Para korban tetap sunyi. Arsip terkunci. Percakapan hanya beredar sebagai rumor, bukan fakta yang bisa diuji.
Masyarakat menikmati hasil kerja jurnalistik seperti udara: terasa hanya ketika ia hilang.
Tidak berarti jurnalisme akan hilang sepenuhnya. Ia mungkin berubah bentuk, didukung filantropi, organisasi nirlaba, kolaborasi lintas pihak, atau model pendanaan publik. Jurnalisme warga dan media sosial mungkin akan semakin tampil. Namun algoritma bisa dibajak oleh penguasa, baik melalui pendengung maupun sensor.
Pertanyaannya bukan hanya apakah kita masih punya jurnalisme. Pertanyaannya, apakah kita masih punya cukup orang yang dibayar untuk mencari kebenaran penuh waktu. Karena tanpa itu, kekuasaan akan kembali ke habitat alaminya, korup dan otoriter.
Masyarakat menikmati hasil kerja jurnalistik seperti udara: terasa hanya ketika ia hilang. Kita hidup di dunia yang lebih transparan karena ada orang-orang yang membuka pintu-pintu tertutup, sering kali dengan risiko pribadi.
Kasus Epstein mengingatkan bahwa bahkan jaringan paling kuat pun bisa retak ketika disorot cukup lama. Tetapi cahaya tidak menyala sendiri. Ia membutuhkan institusi, dana, keberanian, dan publik yang peduli.
Jika semua itu melemah, maka skandal besar di masa depan mungkin tidak pernah terungkap lagi, bukan karena ia tidak ada, tetapi karena tak ada lagi jurnalisme yang gigih untuk mengungkapnya.





