Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat menangani 21.579 kepala keluarga (KK) penyintas bencana sepanjang 2025, dalam setahun kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika di Cibinong, Selasa, mengatakan penanganan ribuan KK tersebut merupakan bagian dari respons pemerintah daerah terhadap 1.826 kejadian bencana yang terjadi di 40 kecamatan dan 363 desa/kelurahan selama 2025.
Ajat menjelaskan ujian awal kepemimpinan Rudy-Ade terjadi ketika rangkaian bencana alam hidrometeorologi menerjang kawasan Puncak dan sejumlah wilayah lain pada awal Maret 2025. Bencana tersebut menyebabkan akses jalan dan jembatan di beberapa titik terputus.
Baca juga: Pemkab Bogor salurkan bantuan Rp1,2 miliar untuk korban bencana
“Di awal masa jabatan, kami langsung dihadapkan pada bencana di kawasan Puncak dan beberapa wilayah lainnya. Bupati menginstruksikan seluruh perangkat daerah bergerak cepat dan menetapkan status tanggap darurat agar penanganan dapat dipercepat,” ujar Ajat.
Sedikitnya tujuh jembatan terputus akibat bencana tersebut. Satu berada di Jalan Raya Citeureup–Sukamakmur, tepatnya di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup. Enam lainnya berada di kawasan Puncak, tiga diantaranya berstatus jalan kabupaten, yakni di Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, dan Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, sementara tiga lainnya merupakan jalan desa di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua.
Untuk memulihkan konektivitas, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama TNI membangun jembatan Bailey yang dikerjakan sekitar tiga pekan oleh jajaran Kodam III/Siliwangi, Korem 061/Suryakancana, serta Kodim 0621/Kabupaten Bogor. Seluruh akses yang terputus akibat bencana tersebut kembali tersambung menjelang Idul Fitri 2025.
Ajat menambahkan percepatan pembangunan jembatan darurat dilakukan agar saat itu akses masyarakat dapat kembali normal sebelum Idul Fitri, sehingga memudahkan warga bersilaturahim saat Lebaran sekaligus memperlancar aktivitas perekonomian di wilayah terdampak.
Selain pemulihan akses, pada fase awal Maret 2025, tercatat 401 KK sempat mengungsi akibat banjir dan longsor. Pemerintah daerah membuka posko pengungsian dan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik berupa beras, makanan siap saji, air mineral, selimut, matras hingga perlengkapan bayi.
Baca juga: Ribuan personel disiagakan hadapi potensi bencana di Bogor
Baca juga: BPBD Bogor tangani sejumlah wilayah bencana akibat hujan deras
Secara keseluruhan, dari 1.826 kejadian bencana sepanjang 2025, tercatat 77.065 jiwa terdampak dan 5.146 warga mengungsi. Jenis bencana yang paling banyak ditangani adalah angin kencang sebanyak 919 kejadian, disusul tanah longsor 588 kejadian dan banjir 162 kejadian.
Dari sisi dampak, tercatat 30 orang meninggal dunia serta ribuan rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, hingga berat. Pemerintah daerah terus memperkuat sistem respons melalui optimalisasi Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat 112 yang beroperasi 24 jam dan terintegrasi lintas instansi.
Ia menegaskan refleksi setahun kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa tingginya frekuensi bencana di Kabupaten Bogor diimbangi dengan langkah responsif pemerintah daerah dalam penanganan darurat, pemulihan akses, serta penguatan mitigasi ke depan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika di Cibinong, Selasa, mengatakan penanganan ribuan KK tersebut merupakan bagian dari respons pemerintah daerah terhadap 1.826 kejadian bencana yang terjadi di 40 kecamatan dan 363 desa/kelurahan selama 2025.
Ajat menjelaskan ujian awal kepemimpinan Rudy-Ade terjadi ketika rangkaian bencana alam hidrometeorologi menerjang kawasan Puncak dan sejumlah wilayah lain pada awal Maret 2025. Bencana tersebut menyebabkan akses jalan dan jembatan di beberapa titik terputus.
Baca juga: Pemkab Bogor salurkan bantuan Rp1,2 miliar untuk korban bencana
“Di awal masa jabatan, kami langsung dihadapkan pada bencana di kawasan Puncak dan beberapa wilayah lainnya. Bupati menginstruksikan seluruh perangkat daerah bergerak cepat dan menetapkan status tanggap darurat agar penanganan dapat dipercepat,” ujar Ajat.
Sedikitnya tujuh jembatan terputus akibat bencana tersebut. Satu berada di Jalan Raya Citeureup–Sukamakmur, tepatnya di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup. Enam lainnya berada di kawasan Puncak, tiga diantaranya berstatus jalan kabupaten, yakni di Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, dan Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, sementara tiga lainnya merupakan jalan desa di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua.
Untuk memulihkan konektivitas, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama TNI membangun jembatan Bailey yang dikerjakan sekitar tiga pekan oleh jajaran Kodam III/Siliwangi, Korem 061/Suryakancana, serta Kodim 0621/Kabupaten Bogor. Seluruh akses yang terputus akibat bencana tersebut kembali tersambung menjelang Idul Fitri 2025.
Ajat menambahkan percepatan pembangunan jembatan darurat dilakukan agar saat itu akses masyarakat dapat kembali normal sebelum Idul Fitri, sehingga memudahkan warga bersilaturahim saat Lebaran sekaligus memperlancar aktivitas perekonomian di wilayah terdampak.
Selain pemulihan akses, pada fase awal Maret 2025, tercatat 401 KK sempat mengungsi akibat banjir dan longsor. Pemerintah daerah membuka posko pengungsian dan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik berupa beras, makanan siap saji, air mineral, selimut, matras hingga perlengkapan bayi.
Baca juga: Ribuan personel disiagakan hadapi potensi bencana di Bogor
Baca juga: BPBD Bogor tangani sejumlah wilayah bencana akibat hujan deras
Secara keseluruhan, dari 1.826 kejadian bencana sepanjang 2025, tercatat 77.065 jiwa terdampak dan 5.146 warga mengungsi. Jenis bencana yang paling banyak ditangani adalah angin kencang sebanyak 919 kejadian, disusul tanah longsor 588 kejadian dan banjir 162 kejadian.
Dari sisi dampak, tercatat 30 orang meninggal dunia serta ribuan rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, hingga berat. Pemerintah daerah terus memperkuat sistem respons melalui optimalisasi Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat 112 yang beroperasi 24 jam dan terintegrasi lintas instansi.
Ia menegaskan refleksi setahun kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa tingginya frekuensi bencana di Kabupaten Bogor diimbangi dengan langkah responsif pemerintah daerah dalam penanganan darurat, pemulihan akses, serta penguatan mitigasi ke depan.





