Gubernur Jakarta Pramono Anung melarang organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan penyisiran (sweeping) ke rumah makan selama bulan Ramadan. Warga di Manggarai, Jakarta Selatan mengaku setuju dengan larangan itu untuk saling bertoleransi.
Seorang warga Manggarai, Epi (50) mengatakan, setiap orang punya keyakinannya sendiri. Ia menilai kerukunan antar warga adalah hal yang penting.
"Bagusnya begitu ya. Soalnya namanya orang kan ada yang nggak puasa, laper. Tapi kalau ini mah toleransi aja," ujar Epi saat ditemui di kawasan Manggarai, Selasa (17/2/2026).
Meski begitu, Epi menyebut suasana Ramadan di Manggarai khidmat. Katanya, banyak rumah makan yang memilih buka sore untuk menyediakan menu buka puasa dan takjil, bahkan dia tak pernah melihat ada ormas yang sweeping.
"Paling entar habis asar baru rame yang jualan. Sampai pas buka puasa. Tapi kalau dagang siang-siang nggak ada, jarang. Emang kita mah mengikuti. Jadi biar pake sweeping nggak kena, orang emang nggak dagang. Jadi emang Ashar dagangnya," jelas Epi.
Selanjutnya warga lain Hasan (51) mengatakan, setuju dengan pelarangan sweeping oleh ormas. Namun dia juga menyarankan pemilik rumah makan baru buka sore jelang waktu Magrib.
"Kalau saya sih bagus ya larangan nggak boleh sweeping. Tapi kalau itu dulu, ditutup dulu ya bisa, nanti sore gitu buka jelang magrib. Tapi kembali lagi silakan, itu hak masing-masing mungkin. Kalau saya mah lebih netral saja," ujar Hasan.
Hasan beralasan, warga Jakarta punya latar belakang yang berbeda atau lebih majemuk. Upaya Pemprov Jakarta menurutnya bagian upaya saling menghormati.
"Kalau untuk Jakarta sih sebetulnya hal yang biasa sih kalau untuk antara yang puasa, yang nggak puasa. Sebetulnya tidak masalah, tidak ngaruh. Jakarta kan majemuk ya," ungkapnya.
Selanjutnya Eneng (31) pemilik warung makan dan kopi di Manggarai mengatakan setuju dengan larangan sweeping ormas. Sebab menurutnya, tidak setiap orang menjalankan puasa.
"Ya bagus, karena gak semua orang puasa. Maksudnya ada banyak orang gak Islam, terus kan gak puasa. Mereka juga butuh makan ya," kata Eneng.
Meski begitu, Eneng menyebut warungnya ada ditutup setengah agar tak terlihat langsung dari luar. Baginya upaya itu juga sebagai sikap saling menghormati untuk yang menjalankan puasa.
"Iya pasti. Paling nanti kita saling hormatin aja. Besok kita paling kasih tutupan setengah, biar orang tahu juga kita buka, yang mau makan silakan," kata Eneng.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak mengizinkan organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan penyisiran (sweeping) ke rumah makan selama bulan Ramadan. Ia meminta seluruh pihak menjaga suasana tetap damai dan rukun saat memasuki bulan puasa.
Hal itu disampaikan Pramono setelah meresmikan gedung Gereja Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026). Menurutnya, menyambut Ramadan harus dilakukan dengan penuh kedamaian, bukan dengan tindakan yang menimbulkan keresahan.
"Saya ingin menegaskan bahwa menyambut Ramadan itu harus penuh kedamaian dan kerukunan," kata Pramono di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2).
Ia menjelaskan rangkaian perayaan di Jakarta saat ini masih dalam suasana Imlek hingga 17 Februari. Setelah itu, suasana kota akan beralih menyambut Ramadan dan Idul Fitri.
Pemprov DKI, kata dia, sudah menyiapkan berbagai langkah agar masa peribadatan berjalan tertib. Menjawab pertanyaan soal potensi sweeping tempat makan oleh ormas, Pramono menegaskan larangan tersebut.
"Saya sebagai gubernur bertanggung jawab untuk itu dan saya tidak mengizinkan untuk ada sweeping," tegasnya.
(dwr/dwr)




