Surabaya — Transformasi sistem pembayaran digital Indonesia menunjukkan akselerasi signifikan seiring pertumbuhan pesat adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Otoritas moneter menilai instrumen ini bukan sekadar alat transaksi, melainkan infrastruktur strategis yang menopang integrasi ekonomi digital nasional serta memperkuat stabilitas sistem keuangan.
Bank Indonesia (BI) melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 menegaskan bahwa penguatan ekosistem pembayaran digital difokuskan pada lima inisiatif utama, termasuk integrasi ekonomi-keuangan digital nasional, digitalisasi perbankan, interlink fintech-bank, perlindungan konsumen, dan penguatan kepentingan nasional dalam transaksi lintas negara.
Dalam konteks tersebut, QRIS menjadi tulang punggung strategi karena berfungsi sebagai standar nasional kode QR pembayaran yang terintegrasi dengan berbagai aplikasi pembayaran. Sebelum implementasi QRIS, setiap penyelenggara jasa pembayaran memiliki kode QR eksklusif sehingga konsumen harus mengunduh banyak aplikasi. Kini satu kode dapat digunakan lintas platform sehingga transaksi lebih cepat, praktis, dan efisien.
Pertumbuhan Eksponensial Pengguna dan MerchantData terbaru menunjukkan lonjakan adopsi yang impresif. Hingga Desember 2025, jumlah merchant QRIS mencapai 42,75 juta, melonjak dari 1,63 juta pada 2019. Jumlah pengguna juga meningkat hingga 59,53 juta orang, sementara volume transaksi mencapai 15,51 miliar transaksi.
Nilai transaksi pada Desember 2025 tercatat Rp460,99 triliun dengan pertumbuhan tahunan volume mencapai 139,99 persen dan nilai transaksi meningkat 107,22 persen. Capaian ini menunjukkan akselerasi digitalisasi pembayaran ritel nasional yang semakin kuat, terutama didorong oleh dominasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencapai sekitar 95,97 persen dari total merchant.
Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari strategi BI yang menempatkan QRIS sebagai pintu masuk ekosistem keuangan digital. Selain memfasilitasi pembayaran, QRIS membuka akses layanan lain seperti pembukaan rekening, pembiayaan, asuransi, hingga investasi digital bagi pelaku usaha kecil.
Ekspansi Lintas Negara Dorong Pariwisata dan Perdagangan“Penguatan QRIS tidak hanya berfokus pada pasar domestik. Sistem ini kini telah terhubung dengan sejumlah negara melalui skema pembayaran lintas batas. Implementasi kerja sama pembayaran QR dengan Malaysia dimulai Mei 2023 dan Thailand sejak Agustus 2022, sementara Singapura masuk tahap sandbox pada Oktober 2025.” jelas Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Willy Togi, Sabtu (14/2).
Skema ini memungkinkan wisatawan asing membayar di Indonesia menggunakan aplikasi negara asalnya dengan memindai QRIS, atau sebaliknya wisatawan Indonesia membayar di luar negeri menggunakan aplikasi domestik. Mekanisme tersebut dinilai memperkuat stabilitas makroekonomi karena transaksi menggunakan mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan pada mata uang global.
Volume transaksi inbound lintas negara tercatat 874.968 transaksi hingga Desember 2025, sedangkan outbound mencapai 241.808 transaksi. Angka ini menunjukkan peningkatan interkoneksi sistem pembayaran regional yang mulai membentuk jaringan ekonomi digital Asia.
Inovasi QRIS TAP Perluas Use CaseInovasi terbaru yang sedang diperluas adalah QRIS TAP, teknologi pembayaran nirsentuh berbasis Near Field Communication (NFC) yang memungkinkan transaksi cukup dengan satu atau dua kali tap. Fitur ini mendukung transaksi tarif tunggal maupun tarif dinamis, terutama untuk sektor transportasi.
Saat ini implementasi QRIS TAP telah menjangkau 25 provinsi dan mencakup berbagai moda transportasi seperti kereta komuter, bus rapid transit, MRT, LRT, hingga transportasi daerah. Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi fiskal daerah, transparansi penerimaan, serta memperluas akses pembayaran digital masyarakat.
Selain transportasi, potensi penggunaan QRIS TAP juga mencakup sektor parkir, ritel, dan pariwisata. Misalnya digitalisasi parkir modern berbasis gate, pembayaran tiket objek wisata, hingga penggunaan di vending machine atau fasilitas umum.
Target Strategis 2026Untuk menjaga momentum pertumbuhan, BI menargetkan 60 juta pengguna, 45 juta merchant, dan 17 miliar transaksi QRIS pada 2026, sekaligus memperluas kerja sama ke delapan negara mitra. Strategi ini mengusung tema “17-08-45” yang mencerminkan semangat kemerdekaan ekonomi digital melalui peningkatan inklusi, nasionalisme penggunaan sistem pembayaran domestik, serta ekspansi internasional.
Program akseptasi digital 2026 juga mencakup sosialisasi, edukasi, onboarding merchant, dan pembentukan task force di daerah guna mempercepat adopsi. Pemerintah daerah didorong memetakan merchant strategis seperti SPBU, hotel, dan rumah makan agar masuk ekosistem pembayaran digital.
Dampak terhadap Ekonomi NasionalSecara makro, penetrasi QRIS berpotensi memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui peningkatan transparansi transaksi dan efisiensi sistem pembayaran. Digitalisasi juga membantu menekan biaya transaksi, mempercepat perputaran uang, serta memperluas basis data ekonomi untuk perumusan kebijakan.
Bagi sektor riil, integrasi pembayaran digital mempercepat inklusi keuangan UMKM, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing. Dengan semakin luasnya jaringan lintas negara, QRIS berpotensi menjadi instrumen strategis diplomasi ekonomi digital Indonesia di kawasan.
Dengan tren pertumbuhan yang masih tinggi dan inovasi berkelanjutan, QRIS diproyeksikan tetap menjadi pilar utama transformasi sistem pembayaran nasional, sekaligus fondasi bagi terbentuknya ekosistem ekonomi digital yang inklusif, efisien, dan berdaya saing global.





