Prabowo Bertemu Trump, Industri Tekstil Berharap Keringanan Tarif dari AS

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) masih menaruh harapan agar pemerintah mampu menegosiasikan tarif yang lebih rendah dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berharap tarif resiprokal yang saat ini berada di level 19% bisa ditekan lebih rendah agar daya saing ekspor ke Negeri Paman Sam kembali pulih.

Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, pasar Amerika Serikat masih menjadi salah satu tujuan utama ekspor tekstil Indonesia. Namun, beban tarif dinilai membuat produk nasional sulit bersaing dengan negara lain yang mendapatkan perlakuan lebih kompetitif.

“Tentunya kami berharap AS akan memberikan keringanan tarif agar ekspor kita ke AS bisa kembali bersaing meskipun hal itu sulit tanpa ada perbaikan di sisi industrinya,” ujar Redma kepada Bisnis, Selasa (17/2/2026). 

Dalam negosiasi tersebut, Amerika Serikat disebut meminta Indonesia meningkatkan pembelian kapas (cotton) dari Negeri Paman Sam sebagai salah satu syarat penurunan tarif resiprokal dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Permintaan itu menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi industri pemintalan yang belum sepenuhnya pulih.

Menurut Redma, peningkatan impor kapas dari AS sulit direalisasikan apabila tingkat utilisasi industri pemintalan masih berada di bawah 50%. Dengan kapasitas produksi yang belum optimal, kebutuhan bahan baku otomatis ikut menurun.

Baca Juga

  • Prabowo ke AS Bahas Perjanjian Dagang, Ekonom: Industri Tekstil Butuh Keringanan
  • Daftar Sektor Manufaktur yang Terkontraksi pada 2025, Tekstil Tak Termasuk
  • Prabowo Undang 22 Pengusaha ke Hambalang, Bahas Peran Industri Tekstil hingga Mamin

“Hal ini akan sulit dilaksanakan selama industri pemintalan kita utilisasinya masih di bawah 50%,” terangnya.

Data APSyFI mencatat, sebelum pandemi Covid-19 total impor kapas Indonesia mencapai sekitar 600.000 ton per tahun, dengan sekitar 300.000 ton berasal dari Amerika Serikat. Namun, sejak 2022 tren impor terus mengalami penurunan signifikan.

Pada 2025, total impor kapas Indonesia tercatat hanya sekitar 300.000 ton, dengan porsi dari Amerika Serikat tinggal sekitar 70.000 ton. Penurunan ini mencerminkan lesunya aktivitas produksi di sektor pemintalan dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi selama utilisasi industri pemintalan berada di bawah 50%, kecil kemungkinan impor cotton kita dari AS bisa naik,” jelasnya.

Dia menambahkan, rendahnya utilisasi industri tidak lepas dari membanjirnya produk impor yang diduga dijual dengan praktik dumping, baik dalam bentuk kain maupun benang. Kondisi ini membuat pasar domestik tertekan dan menggerus permintaan terhadap produk dalam negeri.

“Utilisasi pemintalan tidak mungkin bisa naik selama barang-barang impor dumping baik kain maupun benang masih membanjiri pasar domestik. Karena kebutuhan utama industri hanyalah pasar dan persaingannya yang fair,” ujarnya.

APSyFI pun berharap upaya diplomasi perdagangan yang dilakukan pemerintah tidak hanya berfokus pada penurunan tarif, tetapi juga diiringi dengan pembenahan di dalam negeri. Tanpa perlindungan pasar yang memadai dan persaingan usaha yang adil, industri menilai sulit untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi permintaan tambahan impor kapas dari Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wacana UU KPK Kembali ke Sebelum Revisi, Saut Situmorang: Masih Gak Jelas, Ini Cuma Omon-Omon
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Jelang Ramadhan, Satpol PP DKI Gencarkan Operasi Miras
• 7 jam laluokezone.com
thumb
MBG Pangkas Anggaran Pendidikan, Kuliah Makin Sulit hingga Guru Honorer Terabaikan
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Banjir Grobogan Meluas, BNPB Catat 42 Desa Terdampak
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Madrid Diklaim jadi Klub Impian Szoboszlai, Liverpool Perlu Waswas?
• 23 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.