FAJAR, MAKASSAR – Di tengah tekanan defisit anggaran pada 2025, Pemerintah Kabupaten Barru justru mencatat capaian positif dengan menurunkan angka kemiskinan.
Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, mengungkapkan bahwa saat dirinya mulai memimpin pada 2025, kondisi keuangan daerah mengalami defisit sekitar Rp40 miliar. Meski demikian, ia bersama jajaran pemerintah tetap berupaya merealisasikan janji-janji politik yang telah disampaikan kepada masyarakat.
“Visi-misi saya bersama Wakil Bupati adalah membawa masyarakat Barru yang berkeadilan, maju berkelanjutan, dan sejahtera lebih cepat. Itu menjadi arah RPJMD lima tahun ke depan. Tentu banyak rintangan, apalagi di 2025 kami harus menjalankan pemerintahan dengan defisit anggaran kurang lebih Rp40 miliar,” ujar mantan Ketua DPRD Sulsel itu.
Namun, ia optimistis kondisi tersebut dapat diatasi. Pada 2026, Barru diproyeksikan menerima dana transfer pusat sebesar Rp133 miliar yang diharapkan mampu memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Barru pada Maret 2025 tercatat sebesar 8 persen, turun 0,31 persen dibandingkan Maret 2024.
“Alhamdulillah, sesuai data BPS, angka kemiskinan Barru tahun 2025 mengalami penurunan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus bekerja lebih baik,” tambahnya.
Selain pengentasan kemiskinan, Pemkab Barru juga berhasil merealisasikan sejumlah program strategis pemerintah pusat di daerah. Di antaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat.
Ina menjelaskan, Barru berhasil memperoleh satu kuota program Sekolah Rakyat yang pada 2025 hanya tersedia sebanyak 100 unit secara nasional.
“Program ini diperuntukkan bagi anak-anak pra-sejahtera. Bersama Wakil Bupati, kami berupaya maksimal agar Barru mendapatkan kuota tersebut,” jelasnya.
Melalui program tersebut, Barru memperoleh alokasi anggaran sekitar Rp270 miliar untuk pembangunan fisik sekolah. Pembangunan telah dimulai sejak November 2025 dan kini menunjukkan progres signifikan. Lokasinya berada di Rest Area Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru.
Untuk program MBG, hingga saat ini telah beroperasi 14 dapur di Barru. Program ini tidak hanya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja melalui rekrutmen tenaga lokal.
Di sektor kelautan, Barru mendapatkan program Kampung Nelayan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan anggaran sekitar Rp9 miliar yang saat ini dalam tahap pembangunan.
Sementara di sektor pertanian, Barru mencatat peningkatan signifikan dalam produksi padi. Pada 2025, produksi mencapai 139.484 ton gabah kering giling, naik 21,81 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 114.510 ton. Capaian ini melampaui target nasional sebesar 13,7 persen.
“Dengan luas sawah sekitar 15.703 hektare dan dukungan program tiga kali tanam dari Kementerian Pertanian, realisasi tanam kami meningkat signifikan. Ini berdampak langsung pada pendapatan petani dan ketahanan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Tingkat pengangguran di Barru juga menunjukkan tren penurunan. Pemkab Barru telah menyerahkan sekitar 2.000 SK PPPK paruh waktu kepada masyarakat yang memenuhi syarat sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan kerja.
“Capaian ini tentu belum sempurna. Namun kami berkomitmen menjaga keberlanjutan pembangunan dan memastikan setiap kebijakan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat Barru,” jelasnya. (wid)





