Bisnis.com, JAKARTA — Emiten teknologi PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) telah menuntaskan periode pembelian kembali saham tahap ketiga. Kendati demikian, terdapat catatan koreksi pada pelaporan dana transaksi.
Corporate Secretary Bukalapak Cut Fika Lutfi, dalam tanggapan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), menyatakan saat ini tengah melakukan verifikasi ulang untuk memastikan akurasi perhitungan total dana pembelian kembali.
Hal ini menyusul adanya informasi koreksi yang diterima perseroan dari pihak Perantara Pedagang Efek atau broker yang memfasilitasi transaksi tersebut.
“Perseroan akan menyampaikan laporan koreksi kepada BEI secara terpisah,” ungkap Fika dalam keterbukaan informasi yang dikutip Selasa (17/2/2026).
Terkait dengan transparansi transaksi, BEI juga sempat mempertanyakan potensi keterlibatan pihak afiliasi dalam buyback hingga tahap ketiga ini.
Namun, manajemen menegaskan bahwa hingga berakhirnya periode pembelian kembali, BUKA tidak menerima laporan mengenai keterlibatan pihak afiliasi.
Fika menjelaskan proses buyback dilakukan melalui mekanisme pasar di BEI. Dengan menggunakan jasa broker, perseroan tidak memiliki akses langsung terhadap informasi identitas pihak penjual saham dalam transaksi tersebut.
Setelah menyelesaikan Tahap III, BUKA dipastikan tidak akan berhenti melakukan aksi serupa. Perseroan menyatakan komitmennya untuk menghabiskan seluruh sisa plafon pembelian kembali saham sebagaimana diatur dalam POJK 13 dan surat instruksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Perseroan kembali melaksanakan pembelian saham perseroan menggunakan sisa plafon pembelian kembali tersebut,” pungkas Fika.
Adapun rencana pembelian pembelian kembali saham itu telah disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi pada 6 Februari 2026 lalu.
Sebagai informasi, per 31 Desember 2025, BUKA masih memiliki likuiditas jumbo dengan sisa dana initial public offering (IPO) mencapai Rp4,28 triliun.
Sebagian besar dana tersebut masih ditempatkan pada instrumen deposito, giro, dan obligasi guna menjaga nilai aset sebelum direalisasikan untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha entitas anak.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





