Post Hustle Generation: Saat Ambisi Bukan Lagi Tujuan Hidup di Generasi Muda

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Post Hustle Generation kini bukan lagi sekadar jargon media sosial, melainkan juga refleksi perubahan nilai kerja generasi muda di banyak negara. Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil dan biaya hidup yang terus naik, bekerja keras tidak lagi otomatis bermakna hidup lebih aman.

Generasi pascapandemi hidup dalam realitas di mana burnout, kecemasan, dan ketidakpastian lebih nyata daripada janji sukses korporasi. Maka, tidak mengherankan bila banyak orang muda mulai memutuskan bahwa hidup bukan hanya soal menaiki tangga karier.

Post Hustle Generation hadir bukan sebagai generasi anti-kerja, melainkan generasi yang menolak menjadikan kerja sebagai pusat eksistensi. Kerja dilihat sebagai alat untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.

Fenomena ini mulai terasa kuat di Indonesia, terutama di kalangan mahasiswa, pekerja kreatif, dan pekerja digital. Pilihan kerja fleksibel, resign kolektif, dan penolakan terhadap budaya lembur menjadi gejala yang kian terbaca.

Yang menarik, perubahan ini terjadi bukan karena generasi ini kehilangan ambisi, melainkan karena ambisi telah bergeser dari akumulasi menuju kebermaknaan hidup.

Dari Hustle Culture ke Post Hustle

Budaya hustle lahir dari keyakinan bahwa semakin keras bekerja, semakin dekat seseorang pada kesuksesan. Narasi ini diperkuat oleh budaya startup dan kapitalisme digital yang menormalisasi kerja tanpa batas.

Namun, penelitian oleh Clark et al. (2021)—dalam Journal of Vocational Behavior—menunjukkan bahwa overwork secara signifikan berkorelasi dengan penurunan well-being atau kesejahteraan, peningkatan kecemasan, dan kelelahan emosional. Artinya, kerja berlebihan justru melemahkan kualitas hidup dan produktivitas jangka panjang.

Inilah yang mendorong lahirnya Post Hustle Generation sebagai bentuk perlawanan kultural. Ketika tubuh dan pikiran menjadi korban, narasi sukses berbasis pengorbanan mulai kehilangan legitimasi.

Generasi ini menyadari bahwa sistem yang menuntut kerja ekstrem tidak sejalan dengan keberlanjutan manusia. Maka, yang dipersoalkan bukan kemalasan, melainkan struktur kerja yang tidak manusiawi.

Dalam konteks ini, Post Hustle bukanlah kemunduran etos kerja, melainkan bentuk rasionalitas baru.

Kerja Tidak Lagi Menjadi Sumber Identitas Utama

Salah satu ciri utama Post Hustle Generation adalah melepaskan identitas dari pekerjaan. Seseorang tidak lagi merasa harus menjelaskan nilai diri melalui jabatan atau nama perusahaan.

Hal ini sejalan dengan penelitian psikologi di dalam Research in Organizational Behavior (2010) yang menegaskan bahwa makna kerja bukan berasal dari posisi atau gaji, melainkan dari pengalaman psikologis, relasi, dan kontribusi sosial.

Generasi pasca-hustle mulai mengejar pekerjaan yang “cukup” secara finansial, tetapi kaya secara makna. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan yang memberi ruang tumbuh, bukan sekadar ruang naik.

Ini menjelaskan mengapa banyak yang rela berpindah karier, menolak promosi, atau memilih kerja fleksibel. Stabilitas psikologis dianggap lebih berharga daripada status.

Dalam sudut pandang anti-mainstream, pilihan ini justru mencerminkan kedewasaan dalam membaca realitas kerja modern.

Post Hustle dan Ketimpangan Ekonomi yang Tersembunyi

Post Hustle Generation juga muncul sebagai reaksi terhadap kebuntuan mobilitas sosial. Kerja keras tidak lagi menjamin rumah, tabungan, atau masa depan aman.

Bagi banyak orang muda, bekerja 12 jam sehari hanya menghasilkan kelelahan, bukan kemajuan struktural. Ketika sistem tidak adil, menolak eksploitasi menjadi bentuk rasionalitas, bukan pembangkangan.

Di Indonesia, hal ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap kerja lepas, usaha mikro, dan profesi kreatif. Pilihan tersebut sering dibaca sebagai kurang ambisius, padahal justru lebih adaptif.

Post Hustle Generation membaca dunia kerja sebagai arena yang tidak lagi memberi imbal balik sepadan. Maka, strategi hidup pun diubah.

Di sinilah post hustle menjadi bentuk kecerdasan sosial, bukan kemalasan kolektif.

Masa Depan Ambisi di Era Post Hustle

Ambisi dalam Post Hustle Generation tidak hilang, tetapi berpindah arah. Ambisi kini lebih diarahkan pada hidup yang layak, sehat, dan bermakna.

Generasi ini ingin bekerja, tetapi juga ingin hidup. Mereka menuntut dunia kerja yang manusiawi, bukan sekadar efisien.

Ke depan, tekanan dari Post Hustle Generation bisa memaksa perusahaan dan negara untuk merombak standar kerja. Isu seperti jam kerja, kesehatan mental, dan jaminan sosial akan semakin sentral.

Dalam perspektif ini, Post Hustle bukan ancaman bagi produktivitas, melainkan fondasi bagi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Masyarakat yang tidak lelah secara struktural justru lebih inovatif.

Post Hustle Generation sedang membangun etika baru tentang arti sukses. Bukan tentang seberapa tinggi posisi, melainkan tentang seberapa utuh kehidupan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ratusan Pemuda dari 25 Negara Asah Skill Diplomasi di Konferensi Internasional Ini
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Negara Tetangga Tetapkan 1 Ramadan pada 19 Februari 2026, Indonesia Masih Tunggu Sidang Isbat
• 22 jam lalutabloidbintang.com
thumb
3 Cara Memasak Roti Selain Dipanggang
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Menag Bicara soal Keinginan Agar Puasa di Indonesia Bisa Serentak
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Olivia Nathania dan Nia Daniaty Tak Hadiri Panggilan Eksekusi, Kuasa Hukum Sentil Gaya Hidup Mewah
• 3 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.