Harga bitcoin melemah pada perdagangan pagi di Rabu (18/2). Aset kripto raksasa tersebut kembali tertekan dan diperdagangkan di kisaran US$67.000. Ia turun di bawah rentang sempit akhir pekan sebelumnya di US$68.000–US$70.000.
Senior Director Wincent, Paul Howard mengatakan bahwa kripto saat ini masih sangat bergantung pada dinamika makroekonomi. Hal ini tercermin dalam bagaimana harga bitcoin melemah seiring dengan tekanan terhadap pasar saham akibat gejolak sektor teknologi.
Baca Juga: Waspada Pola Historis, Imlek Bisa 'Merahkan' Harga Bitcoin (BTC)
“Dalam dua belas bulan terakhir, berita makro sangat berkorelasi dengan profil risiko kripto. Ekspektasinya, data makro masih cenderung lemah, yang mengarah pada mentalitas perdagangan risk-off,” ujar Howard.
Ia menilai katalis jangka pendek yang berpotensi lebih besar bagi pasar kripto bukan berasal dari data ekonomi rutin, melainkan dari putusan terkait kebijakan tarif dari Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS).
Howard memperkirakan pasar kripto akan melanjutkan fase konsolidasi, seiring bitcoin dan aset digital lainnya masih mencari narasi baru yang cukup kuat untuk menarik kembali aliran dana dari saham kecerdasan buatan (AI) dan komoditas.
“Kripto masih memiliki pekerjaan rumah untuk kembali memposisikan diri sebagai kelas aset yang menarik. Harga yang relatif rendah saat ini belum cukup menggoda bagi investor,” katanya.
Baca Juga: Sudah Ada Polanya, Analis Sebut Harga Bitcoin (BTC) Akan Turun Jadi Segini
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, dengan pergerakan harga kripto jangka pendek diperkirakan tetap sensitif terhadap arah pasar saham global dan perkembangan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat.





