Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melaporkan perkembangan penanganan pascabencana alam hidrometerologi di Sumatra-Aceh. Dia menyebut total korban meninggal menjadi 1.205 orang.
Pernyataan itu dia sampaikan saat rapat evaluasi pescabencana di Sumatra bersama DPR, Rabu (18/2/2026). Selain itu, jumlah pengungsi mengalami penurunan.
"Yang meninggal dunia 1.205 orang, dan yang hilang 139 orang, dan pengungsi juga 2 juta lebih, sekarang lebih kurang 12.164 di tenda," katanya.
Dia menyampaikan bahwa di Sumatra Barat sudah tidak ada pengungsi dari sebelumnya 16.164 orang mengungsi di tenda-tenda. Sebab, masyarakat setempat telah pindah ke hunian sementara atau Huntara. Sedangkan masyarakat yang rumahnya hilang atau rusak berat telah mendapatkan dana hunian tunggu
"Di Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak tidak terdapat pengungsi di tenda," jelasnya
Mendagri menyampaikan korban meninggal sebanyak 267 orang, hilang 70 orang di Sumatra Barat. Pemerintah juga mulai merehabilitasi kerusakan fasilitas pendidikan hingga kesehatan.
Baca Juga
- Ada Pencabutan Izin yang Ditinjau, KLH Pastikan Gugatan ke Perusahaan Terkait Banjir Berlanjut
- Banjir di Grobogan Jateng, Perjalanan KA Jalur Pantura Terganggu
- Nikel Filipina Siap Banjiri RI usai ESDM Pangkas Kuota Produksi
Lalu, untuk Sumatra Utara dari 33 kabupaten kota yang ada, 18 terdampak, kecamatan 163 dan desa 897 juga ada rumah yang rusak ringan, berat, hingga hilang. Begitu pun kerusakan infrastruktur fasilitas umum seperti jalan, fasilitas kesehatan, sampai pendidikan.
Dia menuturkan jumlah pengungsi di Sumatra Utara dari sekitar 53 ribu menjadi 850 orang, khususnya di Tapanuli Tengah.
Selanjutnya, Mendagri mengatakan di Aceh 562 orang meninggal dunia, hilang 29 orang, dan pengungsi 1,4 juta sekarang 12.144 orang yang ada di tenda.
"Kerusakan rumah 258 ribu dibagi berdasarkan klasifikasi (kerusakan) rumah ringan, sedang, dan berat. Dari 23 kabupaten/kota, 18 kabupaten/kota terdampak, kecamatan 2013, desa atau kampung 3.046, jelasnya.
Dia menyampaikan bahwa pola bencana hampir sama, di mana daerah dataran tinggi umumnya mengalami longsor karena hujan yang lebat sehingga mengakibatkan jalan terputus dan rusak. Alhasil, kota-kota terisolir dan bantuan logistik sulit dikirim. Sedangkan dataran rendah karena tersapu banjir bandang.





