FAJAR, JAKARTA – Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan fakta memilukan terkait dampak bencana di Sumatera. Sebanyak 29 desa di Aceh dan Sumatera Utara hilang akibat bencana banjir bandang serta longsor. Rata dengan tanah.
Meski proses pemulihan terus berjalan, tercatat 12.944 warga masih terpaksa bertahan di tenda pengungsian.
Bencana alam dahsyat yang melanda Pulau Sumatera tidak hanya menyisakan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengubah peta administrasi wilayah.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Tito Karnavian, menyebutkan bahwa 29 desa kini dinyatakan hilang karena tersapu banjir bandang dan tertimbun longsor.
Dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana di Gedung DPR RI, Rabu (18/2/2026), Tito merinci wilayah yang terdampak paling parah.
Provinsi Aceh: Kehilangan 21 desa/kampung yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Sumatera Utara: Sebanyak 8 desa di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah dinyatakan rata dengan tanah.
“Desa-desa yang hilang ini memerlukan penyelesaian khusus, karena lahannya sudah terbawa arus atau tertimbun. Untuk wilayah Sumatera Barat, tidak ada laporan desa yang hilang,” jelas Tito di hadapan Komite Parlemen.
Update Pengungsi
Meskipun jumlah pengungsi secara total menurun drastis dari angka jutaan, penderitaan belum usai bagi 12.944 orang yang hingga kini masih mendiami lokasi pengungsian.
Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan beban pengungsi tertinggi saat ini, yaitu mencapai 12.144 jiwa. Titik konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Aceh Utara dengan 5.197 orang, diikuti oleh Aceh Tenggara, Aceh Timur, hingga Gayo Lues.
Sementara itu, di Sumatera Utara, jumlah pengungsi menyusut tajam menjadi 850 orang dari semula yang mencapai 53.523 jiwa. Namun, dampak kemanusiaan tetap terasa berat. Dengan catatan: 376 korban meninggal dunia dan 40 orang yang masih dalam pencarian.
Tercatat pula sekitar 30.000 rumah warga mengalami kerusakan dalam berbagai kategori.
Kabar positif datang dari Sumatera Barat. Tito memastikan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi pengungsi di tenda darurat (nol pengungsi) dari angka awal 16.164 orang.
“Sebagian besar warga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah menerima bantuan stimulan. Bagi mereka yang rumahnya hilang atau rusak berat, pemerintah telah memfasilitasi hunian sementara (huntara) atau memberikan dana tunggu hunian,” tambah mantan Kapolri tersebut.
Secara keseluruhan, dampak bencana di Sumatera mencakup area yang sangat luas, melibatkan 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa yang terdampak secara administratif maupun fisik. (*)





