Berbekal gayung plastik, Umi (50) menyusuri anak tangga menuju bantaran Sungai Cisadane di Kampung Bekelir, Kota Tangerang, Banten. Bersama enam cucunya, ia segera membaur dengan warga lain di tepian dermaga apung. Setelah aba-aba bergaung, satu per satu warga pun mulai mengguyurkan air sungai ke kepala diiringi gelak tawa.
Umi tak ingin ketinggalan. Ia mengguyur kepala keenam cucunya secara bergantian. Air mengalir melalui celah-celah rambut hingga membasahi wajah mereka. Seketika, anak-anak itu mengusap wajah dengan telapak tangan agar bisa kembali bernapas lega. ”Setiap tahun selalu ikut, sampai lupa sudah berapa kali,” kata perempuan yang telah puluhan tahun menetap di Kampung Bekelir itu.
Suasana kian semarak. Anak-anak hingga warga lansia basah kuyup oleh air sungai. Mereka menggosok rambut dan kulit kepala dengan sampo saset yang dibawa dari rumah. Bak berwisata di taman bermain air, anak-anak saling mengguyur dan sesekali menceburkan diri ke sungai. Air yang keruh pun terasa seperti laut biru di pesisir Raja Ampat.
Tradisi keramas bersama di Kampung Bekelir telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada Selasa (17/2/2026) sore, ratusan warga kembali berkumpul di tepi Sungai Cisadane untuk melestarikan kebiasaan tersebut. Selain sebagai ritual menyucikan diri menjelang Ramadhan, tradisi yang menyerupai padusan dalam budaya Jawa ini juga menjadi ajang silaturahmi warga setiap tahun.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang berupaya menjadikan tradisi keramas bersama di Sungai Cisadane sebagai warisan budaya tak benda.
Tradisi keramas bersama tengah diajukan sebagai warisan budaya tak benda kepada Kementerian Kebudayaan.
Pengajuan tersebut menjadi upaya pemerintah untuk merawat tradisi turun-temurun di Kota Tangerang.
Menurut tokoh pemuda setempat, Ahmad Farizki (36), tradisi ini sudah ada sejak warga belum mengenal sampo. Saat itu, warga berkumpul untuk keramas bersama menggunakan merang atau tangkai padi yang telah mengering. ”Jadi, (tradisi keramas bersama) kemungkinan sudah berlangsung puluhan tahun. Ketika saya lahir juga sudah ada,” ucapnya.
Ahmad pun tak pernah melewatkan kesempatan untuk turut meramaikan tradisi keramas bersama. Tahun ini, pemuda yang kerap disapa ustaz itu bahkan memimpin doa bersama sebelum acara dimulai. Mengutip sebuah hadis, ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi wujud sukacita warga Kampung Bekelir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Menjelang petang, satu per satu warga meninggalkan tepian Sungai Cisadane dengan rambut basah. Di Kampung Bekelir, tradisi keramas bersama terus mengalir seperti arus Cisadane. Praktik turun-temurun ini mengikat generasi demi generasi dalam kebersamaan, kesederhanaan, dan sukacita yang tak lekang oleh waktu.





