Istana: Perbedaan awal puasa tak perlu dipermasalahkan, saling hormati

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai perbedaan waktu awal pelaksanaan ibadah puasa di Indonesia tidak perlu dipermasalahkan dan dibesar-besarkan, melainkan disikapi dengan saling menghormati antarumat Muslim.

"Bahwa puasa tahun ini mungkin ada perbedaan dari sisi waktu, itu sesuatu hal yang tidak perlu dipermasalahkan, tidak perlu dibesar-besarkan," ujar Prasetyo di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu.

Menurut Prasetyo, sikap saling menghormati perlu dikedepankan mengingat sebagian umat Muslim di tanah air telah lebih dahulu memulai ibadah puasa.

"Justru kita harus saling menghormati karena kita semua tahu bahwa ada sebagian saudara-saudara kita umat muslim yang hari ini juga sudah mulai melaksanakan puasa," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Prasetyo, mewakili Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Islam di Indonesia.

"Kami mewakili Bapak Presiden, mewakili pemerintah juga ingin menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Muslim di Indonesia," kata dia.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat pada Selasa (17/2) dan menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari.

Sidang Isbat mempertimbangkan informasi awal berdasarkan hasil perhitungan secara astronomis (hisab) dan hasil konfirmasi lapangan melalui mekanisme pemantauan (rukyatul) hilal.

Sidang tersebut diikuti sejumlah perwakilan organisasi keagamaan, ahli astronomi, Komisi VIII DPR, serta perwakilan negara sahabat.

Keputusan itu berbeda dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan lebih cepat satu hari atau jatuh pada Rabu, melalui metode hisab.

Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Penetapan ini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai metode baru yang kini menjadi acuan resmi Muhammadiyah, menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya digunakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR Ingatkan Menhub Waspada Bus Tak Laik Jalan saat Mudik
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Pakar Apresiasi Polisi Tetapkan Dirut Bus Cahaya Jadi Tersangka Kecelakaan Maut
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kompolnas Desak Polri Bongkar Jaringan Kasus Narkoba Kapolres Kota Bima
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Perbaikan Tanggul Sungai Tuntang Dikebut, Truk Dilarang Melintas Jalur Gubug
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Viral WN Malaysia Ngaku Ditelantarkan Suami di NTB, Pemprov Beri Penjelasan
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.