JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus pekerjaan dan target perusahaan yang menumpuk, banyak pekerja Jakarta mulai merindukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Fenomena overwork kini menjadi sorotan karena bukan sekadar masalah jam kerja, tetapi berdampak nyata pada kesehatan mental dan produktivitas.
Mita (31), Content Specialist di sebuah perusahaan swasta di Sudirman, Jakarta Pusat, menyampaikan pengalamannya terkait work-life balance.
“Saya berharap ada keseimbangan yang lebih dihargai. Produktif itu penting, tapi kesehatan mental juga sama pentingnya. Pengen bisa tetap kreatif tanpa harus selalu kelelahan,” ujar Mita saat dihubungi Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Kerja Tak Pernah Usai: Saat Pekerja Muda Bertahan Hidup dengan Multi Job
Kota besar seperti Jakarta menghadirkan tekanan tinggi bagi pekerja, terutama di industri kreatif dan digital.
Rutinitas kerja tidak lagi terbatas pada jam kantor resmi, tetapi melebar hingga malam karena tuntutan target performa, permintaan mendadak dari klien, dan kebutuhan memantau tren secara real-time.
“Setiap hari hampir selalu mulai dari cek performa konten, lanjut brainstorming ide baru, lalu produksi sampai upload. Kedengarannya rapi, tapi sering melebar karena revisi atau permintaan mendadak dari tim,” tutur dia.
Bagi pekerja digital, target performa menjadi sumber tekanan utama.
“Iya, terutama saat ide buntu tapi deadline dekat. Rasanya kepala penuh tapi kosong bersamaan. Mau istirahat juga kadang merasa bersalah karena kerjaan belum selesai,” kata Mita.
Fenomena serupa juga dialami Geby (28), pekerja agency model di Pondok Indah.
Jam kerja yang semestinya delapan jam bisa melebar menjadi sepuluh hingga dua belas jam, belum termasuk lembur yang sering tidak dihitung.
“Pulang udah capek banget, besok pagi harus jalan lagi. Di kantor ada istilah ‘masih santai kalau belum malam.’ Jadi pulang cepat malah suka enggak enak sendiri, kayak kurang total kerja,” kata Geby saat dihubungi.
Tekanan ekonomi menjadi faktor lain yang membuat pekerja sulit melepaskan diri dari ritme kerja panjang.
Biaya hidup yang tinggi di Jakarta membuat pekerja tetap memaksakan diri meski mental dan fisik kelelahan.
“Ngaruh banget. Biaya hidup di Jakarta tinggi, dari kos, makan, transport, sampai kebutuhan keluarga di rumah. Jadi walaupun capek, ya tetap dijalanin karena takut enggak cukup kalau cuma kerja standar,” jelas Geby.





