Misteri Nasib Buronan ISIS Asal Jerman di Suriah

detik.com
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Werner Pleil tidak tahu di mana putranya berada.

Terakhir kali fotografer pensiunan dari negara bagian Baden-Württemberg di Jerman barat daya itu mendengar kabar, putranya Dirk berada di sebuah penjara di Suriah timur laut. Dirk bergabung dengan kelompok ekstremis Islamic State "Negara Islam" (ISIS) di Suriah pada 2015, tetapi ditangkap pada 2017 dan sejak itu dipenjara di sana — ditahan tanpa diadili.

Dirk kemungkinan mengidap tuberkulosis dan ayahnya telah berupaya agar ia dipulangkan ke Jerman, demi kesehatannya sekaligus agar menghadapi proses hukum jika diperlukan. Menantu perempuan Pleil dan cucunya yang berusia sembilan tahun berada di Turki dan Pleil juga ingin membawa mereka pulang.

Namun dalam beberapa minggu terakhir, masa depan keluarga itu menjadi semakin tidak pasti. Akibat bentrokan antara pasukan pemerintah sementara Suriah dan milisi Kurdi Suriah yang sebelumnya menguasai sebagian besar wilayah timur laut, penjara dan kamp penahanan yang menampung anggota "Negara Islam" atau ISIS berpindah tangan.

Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, sebagian anggota ISIS dan kerabat mereka melarikan diri dari kamp penahanan. Yang lain dipindahkan ke penjara-penjara di Irak. Antara 21 Januari hingga 12 Februari, militer AS membantu memindahkan lebih dari 5.700 tahanan keluar dari Suriah.

"Saya telah berhubungan dengan kementerian luar negeri dan mereka memberi tahu saya bahwa Jerman tidak terlibat dalam pemindahan tersebut," ujar Pleil kepada DW. "Mereka mengatakan itu murni urusan antara pihak Suriah, Kurdi, dan Amerika."

Pemerintah Jerman membenarkan hal ini. "Kementerian Luar Negeri Jerman mengetahui adanya pemindahan dari pusat-pusat penahanan di Suriah timur laut ke Irak," kata seorang juru bicara kementerian kepada DW. Namun kementerian itu "tidak terlibat dalam proses pemindahan."

Kementerian Luar Negeri Jerman tidak memiliki "gambaran lengkap mengenai kewarganegaraan individu yang terdampak oleh pemindahan tersebut," paparnya, tetapi saat ini bekerja sama dengan otoritas Irak dan AS untuk mengetahuinya.

Namun, ada kemungkinan besar bahwa 27 pria Jerman yang sebelumnya ditahan di Suriah kini berada di Irak.

Laporan media lokal dan internasional menyebutkan warga Jerman termasuk di antara ribuan orang yang dipindahkan. Seorang hakim Irak di Penjara Al-Karkh di Baghdad, yang memimpin komite pemeriksa tahanan yang dipindahkan, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa ia telah melihat tahanan asal Jerman di sana.

Berapa banyak anggota ISIS asal Jerman ?

Tidak jelas berapa banyak warga Jerman yang bepergian ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS yang masih berada di sana. Saat ini pemerintah Jerman memperkirakan jumlahnya hanya belasan hingga beberapa puluh orang.

Perempuan dan anak-anak sebagian besar ditahan di kamp-kamp Suriah seperti Al-Hol atau Roj. Menurut laporan UNHCR, Kamp Al-Hol, yang pernah menampung lebih dari 26.500 orang, kini telah kosong. Sebuah area yang menampung sekitar 6.000 warga asing — yakni sebagian besar perempuan dan anak-anak bukan dari Irak atau Suriah — kini tampaknya tidak lagi berpenghuni.

Sebagian penghuni Al-Hol telah atau akan dipindahkan ke kamp lain, Akhtarin di Provinsi Aleppo, oleh pasukan pemerintah Suriah. Yang lain tampaknya melarikan diri ke kerabat atau menggunakan penyelundup untuk keluar. Tidak jelas ke mana mereka pergi. Ini kemungkinan termasuk warga Jerman yang masih ditahan di sana.

Suriah: 'Bukan masalah kami'

Seorang sumber pemerintah mengatakan kepada DW bahwa selama sekitar dua hari, tidak ada pihak yang mengendalikan Kamp Al-Hol.

"Dalam dua hari pertama [setelah pasukan Kurdi mundur] tidak ada pengawasan," kata sumber tersebut kepada DW secara anonim karena tidak memiliki izin berbicara kepada media. "Sebagian orang di kamp keluar."

Wilayah sekitarnya sulit diawasi dan pemerintah Suriah yang baru tidak memiliki cukup pasukan untuk melakukannya, tambahnya.

"Dan jika sebagian warga asing yang ditahan di kamp berhasil keluar, lalu menuju Turki atau Lebanon, kemudian kembali ke negara asal mereka, maka — terus terang saja — pemerintah Suriah mungkin tidak akan berupaya keras menghentikan mereka," jelasnya. "Warga asing bukan masalah kami. Itu masalah negara mereka sendiri, yang belum cukup serius menangani isu ini," ujarnya.

Hal ini tampaknya sudah mulai terjadi. Surat kabar Inggris The Guardian melaporkan bahwa minggu ini seorang perempuan Belgia yang divonis sebagai anggota ISIS tiba kembali di Eropa melalui Turki. Juga minggu ini, 34 warga Australia dari kamp Roj mencoba kembali ke negara asal mereka.

Peringatan kepada Uni Eropa selama bertahun-tahun

Kepulangan tanpa pengawasan warga Eropa yang pernah menjadi anggota atau pendukung ISIS menimbulkan masalah keamanan yang telah lama diperingatkan oleh para pakar terorisme. Mereka secara rutin mendesak negara-negara untuk memulangkan warga negaranya sendiri dan menangani mereka di dalam negeri, baik melalui sistem peradilan maupun rehabilitasi.

"Tidak ada jawaban sempurna untuk pertanyaan ini," ujar analis riset senior di kantor Berlin dari Counter Extremism Project (CEP), Sofia Koller yang telah menulis beberapa laporan tentang topik ini. "Secara politik [repatriasi] memang kontroversial, tetapi dari banyak sudut pandang lain tidak demikian. Terutama jika kita mempertimbangkan dampak negatif dari tidak melakukan repatriasi — yaitu situasi seperti yang kita lihat saat ini."

Irak telah menyerukan repatriasi warga asing yang ditahannya, demikian pula AS.

Bagaimana kini selanjutnya bagi tahanan Jerman yang 'hilang'?

Namun para pejabat Jerman menunjukkan sikap ragu.

Upaya repatriasi Jerman sebagian besar difokuskan pada perempuan dan anak-anak. Terkait tahanan pria Jerman, pemerintah kerap beralasan ingin menghormati kepentingan negara tempat kejahatan dilakukan.

Anggota parlemen Lamya Kaddor dari Partai Hijau, yang baru-baru ini mengajukan pertanyaan resmi kepada pemerintah mengenai keberadaan warga Jerman tersebut, meyakini para politisi lokal ragu melakukan repatriasi "karena takut terseret isu yang sensitif secara politik ini."

Namun, katanya kepada DW, "membiarkan warga Jerman berada dalam kondisi penahanan yang tidak manusiawi atau potensi penyiksaan, padahal ada opsi repatriasi, tidak layak bagi negara yang menjunjung supremasi hukum. Ini juga tidak bertanggung jawab dari perspektif kebijakan keamanan, sebagaimana ditunjukkan oleh peringatan terhadap kepulangan tanpa kontrol ke Jerman. Menolak semua tanggung jawab bukanlah strategi jangka panjang," ujar Kaddor.

"Bagaimanapun juga, orang-orang ini tidak akan berada dalam situasi yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya," imbuh Koller dari CEP. "Ada berbagai perkembangan yang sangat menantang yang membuat situasi mereka semakin berbahaya."

Salah satunya, Irak kini menyatakan akan mengadili para tahanan ISIS. Fakta bahwa pria-pria Jerman ditahan di Irak mungkin menjadi hal positif bagi mereka, ujar Koller. "Jerman dan Irak memiliki hubungan diplomatik yang resmi dan berjalan baik, yang jauh lebih stabil dibanding yang kita lihat di Suriah," tambahnya. "Itu bisa berarti pemerintah Jerman memiliki akses lebih besar terhadap individu-individu ini, dapat menilai kondisi mental dan kesehatan mereka, serta mungkin meningkatkan akses terhadap pengacara dan komunikasi dengan keluarga."

Hal ini juga akan memudahkan pemulangan mereka ke penjara di Jerman setelah mereka diadili di Irak, tambahnya.

Namun demikian, seperti yang telah disoroti Koller dan lainnya, situasi hukumnya tetap meragukan. Ada pertanyaan apakah pemindahan massal tahanan itu sah secara hukum dan apakah Irak memiliki yurisdiksi atas kejahatan yang dilakukan di Suriah.

Ada juga kemungkinan bahwa individu yang divonis atas terorisme di Irak dapat dijatuhi hukuman mati. Hal ini pernah terjadi pada anggota ISIS asing sebelumnya, termasuk dari Prancis dan Jerman.

"Posisi kami jelas: Hukuman mati adalah hukuman yang kejam dan tidak manusiawi yang ditolak Jerman," tegas kementerian luar negeri Jerman. Karena itu mereka memantau situasi dengan cermat. "Kami menunggu rencana pemerintah Irak dan berkoordinasi dengan pihak Irak," ujar seorang juru bicara kepada DW.

Namun meski terjadi perubahan situasi yang mengkhawatirkan, tidak ada rencana repatriasi yang disiapkan, mereka menegaskan.

Semua ini membuat pensiunan Werner Pleil khawatir bukan hanya tentang keberadaan putranya.

"Di Jerman, hukuman mati telah dihapuskan," pungkas Pleil. "Tapi Irak tidak peduli sedikit pun soal itu. Dan pemerintah kami hanya duduk menunggu solusi muncul dengan sendirinya, atau sampai orang lain melakukan pekerjaan kotor untuk mereka."

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha

Lihat juga Video: Suasana Rumah Persembunyian ISIS yang Digerebek Polisi Turki

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemensos Kebut Penyaluran Bansos Sebelum Lebaran, Total Rp20 Triliun
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Dirut PO Cahaya Trans Jadi Tersangka Laka Maut Tewaskan 16 Orang di Tol Krapyak
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
DPR Minta Iuran PBI BPJS Kesehatan 3 Bulan ke Depan Tetap Dibayar Pemerintah
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Keberatan! Pengacara Jokowi Tolak Keterangan Roy Suryo dan Rismon di Sidang CLS Kasus Ijazah
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Reses Kedua, Wakil Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq Serap Aspirasi Warga Kecamatan Rappocini
• 21 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.