Liputan6.com, Jakarta - Mengawali 1 Ramadan 1447 Hijriah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Islam menjadikan bulan suci sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial dan harmoni kebangsaan di tengah dinamika kehidupan masyarakat. Menurut dia, Ramadan harus menghadirkan dampak yang tidak hanya terasa secara personal, tetapi juga memperkuat solidaritas dan persaudaraan kebangsaan.
“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah ruhani yang membentuk kepedulian, empati, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujar Nasaruddin seperti dikutip melalui siaran pers, Jakarta, Kamis (19/22026).
Advertisement
Imam Besar Masjid Istiqlal ini menegaskan, ibadah puasa mengajarkan pengendalian diri dan hidup secara proporsional. Nilai ini penting untuk membangun kehidupan sosial yang adil, tidak eksploitatif, serta berkelanjutan, baik terhadap sesama maupun terhadap alam.
“Ramadan mendidik kita bahwa hidup bukan tentang memuaskan segala keinginan, tetapi tentang kesadaran untuk hidup secara seimbang. Pengendalian diri inilah fondasi bagi keberlanjutan kita sebagai bangsa yang bermartabat,” tegas dia.
Terkait adanya perbedaan dalam mengawali Ramadan tahun ini, Nasaruddin mengajak masyarakat menyikapinya dengan kedewasaan dan semangat persaudaraan. Dia menekankan bahwa perbedaan merupakan bagian dari kebhinekaan bangsa Indonesia.
“Jadikanlah perbedaan sebagai rahmat, bukan sekat. Jangan biarkan perbedaan hitungan melunturkan kedekatan hati. Dalam perbedaan itulah kualitas toleransi kita diuji dan ditingkatkan,” pesan Nasaruddin.




