Menilik Risiko Psikologis Anak Tengah: Antara Perasaan Terabaikan dan Krisis Identitas

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

POSISI anak tengah dalam struktur keluarga sering kali dianggap sebagai posisi yang paling menantang secara emosional. Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., mengungkapkan bahwa anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.

Menurut Amalia, ketidakjelasan peran menjadi faktor utama munculnya kecemburuan sosial di dalam rumah. 

Berbeda dengan anak pertama yang biasanya memiliki peran sebagai pelopor atau anak terakhir yang mendapatkan proteksi lebih sebagai si bungsu, anak tengah sering kali merasa berada di area "abu-abu".

Baca juga : Menelisik Dinamika Psikologis Anak Tengah: Antara Adaptabilitas dan Luka yang Tersembunyi

“Anak tengah berisiko merasa mendapat perlakuan berbeda dari kakak dan adik. Kakak dan adik seolah memiliki peran yang lebih jelas, si sulung dan si bungsu, dibanding dirinya sehingga merasa keduanya lebih diperhatikan oleh orangtua,” ujar Amalia, dikutip Kamis (19/2).

Teori Urutan Kelahiran Alfred Adler

Kondisi psikologis ini dapat dijelaskan melalui teori urutan kelahiran atau birth order yang dikemukakan oleh Alfred Adler. 

Dalam teori tersebut, anak tengah disebut lebih rentan mengalami perasaan tidak spesial karena sejak kecil mereka sudah terbiasa harus berbagi perhatian dengan lebih dari satu orang.

Baca juga : Keseimbangan Kasih Sayang dan Kontrol: Kunci Cegah Perasaan Pilih Kasih pada Anak

Amalia menjelaskan bahwa tekanan ini dapat berdampak pada pembentukan karakter dan harga diri anak. 

“Adler mengungkapkan bahwa anak tengah berisiko mengalami perasaan terabaikan dan tidak spesial sehingga membuatnya merasa tidak terlihat dan harga diri cenderung rendah. Anak tengah juga sudah terpaksa berbagi dengan lebih dari satu orang sejak kecil, yang berisiko menimbulkan rasa membandingkan, ketidakadilan, dan kecemburuan,” tambahnya.

Fenomena ini kembali menjadi sorotan publik menyusul kasus kriminal tragis di Warakas, Jakarta Utara. Pelaku pembunuhan satu keluarga tersebut diketahui merupakan anak tengah yang diduga menyimpan dendam akibat merasa diperlakukan tidak adil di lingkungan rumahnya. 

Kasus ini memicu gelombang diskusi di media sosial, di mana banyak warganet membagikan pengalaman serupa terkait perasaan diabaikan oleh keluarga.

Bukan Faktor Penentu Tunggal

Meski penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan dan harga diri anak tengah cenderung lebih rendah, Amalia menegaskan bahwa urutan kelahiran bukanlah satu-satunya faktor penentu kepribadian seseorang. 

Ia menyebutkan bahwa persepsi subjektif anak dan pola asuh orang tua tetap memegang peranan paling krusial.

“Pengaruh birth order tidak selalu konsisten karena banyak faktor lain yang terlibat seperti pola asuh orangtua, kondisi psikologis orangtua, jenis kelamin, jarak usia, serta latar belakang budaya dan keluarga,” pungkas lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Dengan pola asuh yang tepat dan komunikasi yang inklusif, risiko perasaan terabaikan pada anak tengah sebenarnya dapat diminimalisir agar mereka tetap merasa memiliki peran yang penting di dalam keluarga. (Ant/Z-1)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indeks Persepsi Korupsi Merosot, Setyo Budiyanto Minta Deputi KPK Lakukan Perubahan Besar
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Imlek Kuda Api, William Lauren Tekankan Semangat Akselerasi Seimbang Dengan Kepedulian Lingkungan
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Teleskop Hubble NASA Mengungkap Sepasang Katai Putih Ultra Masif yang Langka
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Debat Panas di DPR, Dasco Pasang Badan Demi Bantuan Diaspora Masuk ke Aceh
• 17 jam lalusuara.com
thumb
Pengakuan Dosa Shayne Pattynama, Aksi Emosionalnya di Laga Timnas Indonesia vs Irak
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.