KETEGANGAN di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah militer Amerika Serikat dilaporkan telah merampungkan persiapan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, paling cepat akhir pekan ini. Meski aset tempur telah disiagakan, Presiden Donald Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final terkait otorisasi tindakan militer tersebut.
Sejumlah sumber yang akrab dengan masalah ini mengungkapkan kepada CNN bahwa Gedung Putih telah menerima pengarahan mengenai kesiapan militer. Persiapan ini menyusul penumpukan besar-besaran aset udara dan laut AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Trump Masih Menimbang OpsiMeskipun persiapan tempur telah matang, Trump dikabarkan masih dilanda keraguan. Dalam diskusi privat, ia dilaporkan melontarkan argumen yang mendukung sekaligus menentang aksi militer. Trump juga terus melakukan jajak pendapat kepada penasihat dan sekutunya mengenai langkah terbaik yang harus diambil.
Baca juga : Trump Masih Ambigu Soal Opsi Militer Terhadap Iran: Kita Lihat Saja Nanti
"Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini," ujar salah satu sumber.
Persiapan kilat militer AS ini juga ditandai dengan pergerakan USS Gerald Ford yang diperkirakan tiba di kawasan tersebut pada akhir pekan ini. Selain itu, aset Angkatan Udara AS yang berbasis di Inggris, termasuk jet tempur dan pesawat tanker pengisi bahan bakar, dilaporkan mulai direposisi mendekati Timur Tengah.
Diplomasi yang MenggantungDi sisi lain, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup meskipun hasilnya masih buram. Dalam pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada Selasa lalu, negosiator AS dan Iran saling bertukar catatan selama tiga setengah jam. Meski negosiator Iran mengeklaim adanya kesepakatan mengenai "serangkaian prinsip panduan," pejabat Amerika menegaskan bahwa masih banyak detail yang perlu dibahas.
Baca juga : Di Ambang Serangan, Trump Tahan Opsi Militer AS terhadap Iran
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Iran diharapkan memberikan rincian lebih lanjut mengenai posisi negosiasi mereka dalam beberapa minggu ke depan. Namun, ia tidak menjamin apakah Trump akan menunda aksi militer selama periode tersebut.
"Saya tidak akan menetapkan tenggat waktu atas nama Presiden Amerika Serikat," kata Leavitt pada Rabu waktu setempat.
Leavitt menambahkan bahwa meskipun diplomasi selalu menjadi pilihan pertama Trump, opsi militer tetap tersedia di atas meja.
"Ada banyak alasan dan argumen yang bisa dibuat untuk melakukan serangan terhadap Iran," tambahnya, seraya menekankan bahwa Trump sangat mengandalkan saran dari tim keamanan nasionalnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan terbang ke Israel pada 28 Februari mendatang untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu guna memberikan informasi terbaru terkait perkembangan pembicaraan dengan Iran. Dunia kini menunggu apakah akhir pekan ini akan menjadi awal dari konflik terbuka atau babak baru dalam diplomasi yang alot. (CNN/Z-2)





