EtIndonesia. Pada Selasa (17 Februari), Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran terbaru perundingan nuklir di Jenewa, Swiss. Pertemuan tidak langsung yang dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman itu berlangsung lebih dari empat jam.
Namun di saat yang sama, Iran menggelar latihan militer dengan tembakan langsung di Selat Hormuz dan menutup jalur tersebut selama beberapa jam, memicu perhatian luas dunia internasional.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan: Ia menjelaskan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepahaman untuk mulai menyusun rancangan teks kesepakatan yang mungkin dicapai, kemudian saling bertukar draf dan menetapkan tanggal perundingan putaran ketiga.
Menurut Araghchi, hal ini memang belum berarti kesepakatan nuklir akan segera tercapai, namun setidaknya jalur negosiasi telah resmi dibuka kembali.
Iran Umumkan Latihan Tembak di Selat Hormuz
Di tengah berlangsungnya perundingan, televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa negara tersebut menggelar latihan tembak langsung di Selat Hormuz serta menayangkan rekaman peluncuran rudal. Iran juga menyatakan menutup sebagian wilayah selat tersebut selama beberapa jam.
Ini merupakan pertama kalinya Iran menutup sebagian area Selat Hormuz sejak Amerika Serikat meningkatkan pengerahan militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir. Selat ini merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat vital, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut.
Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menyampaikan pernyataan keras melalui media pemerintah. Ia mengancam akan menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat yang dikerahkan di perairan dekat Iran.
Sikap Washington: Negosiasi dan Tekanan Militer
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin malam berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One. Ia menegaskan bahwa Washington tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran guna memastikan rezim Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Kami akan terlibat dalam perundingan secara tidak langsung. Perundingan ini sangat penting, dan kami akan melihat bagaimana perkembangannya. Ini selalu menjadi negosiasi yang sulit. Saya pikir mereka memang ingin mencapai kesepakatan. Saya tidak yakin mereka bersedia menanggung konsekuensi jika perundingan gagal,” ujar Trump.
Sebelumnya, Trump juga pernah menyatakan bahwa bagi rakyat Iran, “pergantian rezim” di Teheran mungkin merupakan hasil yang paling ideal.
Saat ini, Amerika Serikat terus memperkuat pengerahan militernya di sekitar Iran. Selain kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, Washington juga telah mengirim kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data pelacakan penerbangan sumber terbuka, sebanyak 18 jet tempur F-35 beserta beberapa pesawat pengisi bahan bakar tiba di kawasan tersebut pada Senin.
Dukungan dari Israel
Senator Amerika Serikat, Lindsey Graham, yang tengah melakukan kunjungan ke Israel, mengatakan kepada wartawan bahwa Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel memiliki sikap yang sejalan dalam menghadapi krisis Iran.
“Jika Ayatollah (Khamenei) dan rezimnya mampu bertahan dari gejolak ini, maka Hamas, Hizbullah, dan kelompok Houthi bukan hanya tidak akan melemah, tetapi justru akan kembali lebih kuat,” ujar Graham.
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut dapat berdampak pada konflik Rusia–Ukraina, bahkan berpotensi mendorong Tiongkok menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan.
“Sebaliknya, jika kita menunjukkan tekad dan, bila perlu, bekerja sama dengan rakyat Iran untuk mengakhiri mimpi buruk ini serta memberikan pukulan telak kepada rezim tersebut, maka fajar baru akan menyingsing,” tegasnya. (jhon)





