Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan permintaan ikan selama Ramadan melonjak sekitar 20 persen. Angka ini ditemukan berdasarkan survei yang dilakukan oleh KKP.
Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, menyebutkan kenaikan konsumsi cukup signifikan saat Ramadan.
“Permintaannya juga meningkat kalau Ramadan dan Idul fitri, menurut survei kami kenaikannya 10-20 persen dari bulan biasa,” kata Machmud dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2).
Machmud menjelaskan sepanjang Januari-Maret 2026 kebutuhan ikan biasanya mencapai 1,94 juta ton. Namun, khusus saat Ramadan dan Idul fitri saja konsumsi ikan diproyeksikan mencapai 700 ribu ton.
Meski ada kenaikan permintaan, Machmud memastikan stok dalam kondisi aman.
"Jadi antara produksi, stok dan konsumsi itu kondisi aman, produksi ditambah stok itu masih lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi,” jelasnya.
MBG Tak Ganggu Harga Ikan Jelang Ramadan
Machmud menjelaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum mengganggu harga ikan di pasaran menjelang Ramadan. Menurut dia meroketnya harga ikan bisa terjadi jika ada kenaikan permintaan masyarakat.
“Menurut kami belum [menganggu]. Sampai sekarang itu belum, karena posisinya untuk lele dan nila juga itu sudah ada di situ. Jadi tidak mengganggu pasar di sana,” ujarnya.
Machmud melihat naik turunnya harga ikan juga bergantung pada kelancaran produksi dan distribusi. Jika pasokan tersedia dalam jumlah cukup, biasanya harga tidak akan mengalami kenaikan.
“Memang ada (harga) yang naik biasanya itu ikan-ikan yang memang tidak diproduksi, dan agak cenderung stoknya kurang, tapi tidak terlalu banyak. Jadi para pedagang kemarin menyampaikan ke kami, bila produksi kemudian distribusi itu lancar, itu harga-harga stabil, itu yang disampaikan ke kami dan kami juga tanya langsung kepada para pedagang dan juga para pembeli,” terangnya.





