BI Optimistis Rupiah Bakal Menguat, Ini Sederet Indikatornya

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali bergerak stabil bahkan memiliki kecenderungan untuk menguat menuju nilai fundamentalnya. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa arah pergerakan nilai tukar pada dasarnya dipengaruhi oleh dua hal utama yakni faktor fundamental dan faktor teknikal.

Secara fundamental, sambungnya, indikator utama yaitu inflasi yang terjaga, laju pertumbuhan ekonomi yang positif, serta tingkat imbal hasil (yield) investasi yang menarik. Semua indikator itu, sambungnya, memberikan sinyal bahwa posisi rupiah seharusnya lebih kuat.

"Faktor teknikal dan premi risiko, khususnya yang bersumber dari dinamika global, memang menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar. Oleh karena itu, respons Bank Indonesia adalah meningkatkan intensitas intervensi untuk menstabilkan rupiah," ungkap Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Februari, Kamis (19/2/2026).

Dia mencatat bahwa nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.880 per dolar AS pada 18 Februari 2026 atau mengalami pelemahan sebesar 0,56% secara point to point apabila dibandingkan dengan level penutupan pada akhir Januari 2026. Menurutnya, nilai rupiah itu berada bawah nilai fundamentalnya atau undervalued.

Oleh sebab itu, Perry menjelaskan bahwa langkah stabilisasi dieksekusi melalui intervensi berlapis, baik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun maupun melalui transaksi Spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri.

Baca Juga

  • Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 19 Februari 2026
  • Rupiah Hari Ini (19/2) Ditutup Melemah Jadi Rp16.894 per Dolar AS
  • Rupiah Sentuh Rp16.880 per Dolar AS, Gubernur BI: Nilai Tukar 'Undervalued'
Indikator Penopang

Deputi Senior BI Destry Damayanti menambahkan sejumlah indikator kunci yang menjadi penopang utama proyeksi penguatan rupiah ke depan. Pertama, aliran masuk modal asing alias inflow.

Destry menjelaskan BI juga terus menawarkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik minat investor global, serta membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunde untuk menjaga yield tetap kompeten.

Dia mencatat, berdasarkan data setelmen sejak awal tahun hingga 18 Februari, inflow yang masuk ke instrumen SRBI sebesar Rp31 triliun dan SBN mencapai Rp530 miliar. "Secara keseluruhan year to date, inflow sudah mencapai sekitar US$1,6 miliar. Ini sangat membantu sekali untuk stabilitas rupiah," ujar Destry pada kesempatan yang sama.

Kedua, lanjutnya, bank sentral juga mengakselerasi dedolarisasi melalui Local Currency Transaction (LCT). Dia menyatakan BI memperdalam pasar valas non-dolar AS, khususnya untuk transaksi rupiah dengan Yuan/Renminbi (CNY/CNH).

Destry menjelaskan langkah tersebut sejalan dengan peningkatan pesat LCT dengan China, yang mana nilai transaksi sempat menyentuh angka US$2,7 miliar sepanjang Desember 2025. "Ini terus kita tingkatkan supaya kita tidak semua bergantung pada dolar [AS]," ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mata Berat dan Sulit Fokus saat Puasa, Begini Cara Mengatasi Kantuk Selama Ramadhan
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Pilihan Takjil Buka Puasa yang Aman untuk Anak
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Jadi Bos Humpuss (HUMI), Ari Askhara Mundur dari Kursi Dirut GTSI
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
3 Pekerjaan Rumah Tangga yang Bisa Bantu Kamu Bakar Kalori
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
AHY Umumkan Annisa Pohan Hamil 7 Bulan: Insyaallah Kalau Lahir Shio-nya Kuda Api
• 17 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.