Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Kamis (19/2/2026). BI Rate yang tidak berubah ini memberikan kepastian bagi IHSG.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan keputusan BI menahan suku bunga acuan pada level 4,75% ini merupakan langkah yang hati-hati, tetapi tepat. Hal ini karena risalah terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) masih menahan suku bunga di kisaran 3,5%—3,75% dan belum memberikan sinyal penurunan suku bunga.
“Bagi IHSG, kondisi ini memberikan kepastian, khususnya dari sisi stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Wafi, Kamis (19/2/2026).
Dia melanjutkan pasar sebelumnya juga telah mengantisipasi bahwa BI belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, mengingat volatilitas global yang masih tinggi.
Pelaku pasar menilai keputusan ini sudah priced-in. Namun, lanjut Wafi, narasi BI yang tetap membuka ruang penurunan suku bunga pada paruh kedua 2026 menjadi katalis positif tersendiri.
“Investor suka kejelasan arah,” ucapnya.
Baca Juga
- IHSG Ditutup Lesu saat BI Tahan Suku Bunga, BBCA-BMRI Cs Kompak Merah
- Saham BYAN, UNVR & BREN Topang Laju IHSG Pagi Ini di Tengah Fokus RDG BI
- IHSG Dibuka Menguat ke 8.349 Jelang RDG BI, Saham HMSP, MBMA & BBCA Kompak Hijau
Selain itu, kata Wafi, kepastian bahwa suku bunga ditahan untuk sementara waktu akan memberi ruang bagi emiten untuk merencanakan belanja modal atau capital expenditure (capex) secara lebih terukur.
Adapun dengan BI Rate yang tetap ini, dari sisi sektoral, KISI Sekuritas menilai saham perbankan besar tetap menarik, terutama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Selanjutnya yaitu sektor properti dan otomotif, dengan sejumlah emiten seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), serta PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi pilihan utama.
KISI Sekuritas juga melihat sektor konsumer menjadi sektor pilihan, khususnya saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Lebih lanjut, Wafi juga melihat peluang IHSG menuju level 9.000 masih bisa dicapai, dengan asumsi pertumbuhan earning per share 8%, serta kondisi makro yg stabil atau kondusif.
“Katalisnya ada dari sisi fiskal terutama penyerapan anggaran, momentum lebaran, dan normalisasi cost of fund,” ujar Wafi, Rabu (18/2/2026).
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18—19 Februari 2026. Keputusan itu disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan Hasil RDG pada hari ini, Kamis (18/2/2026).
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%," ujar Perry.
Sejalan dengan itu, bank sentral juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,5%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





