Bisnis.com, JAKARTA — Taipan batu bara sekaligus pendiri PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), Low Tuck Kwong, resmi memboyong lukisan karya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) senilai Rp6,5 miliar. Karya seni bertajuk ‘Kuda Api’ tersebut terjual dalam sebuah lelang amal.
Lelang tersebut berlangsung dalam rangkaian acara perayaan Imlek 2577 yang diinisiasi oleh Partai Demokrat di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026). Perhelatan ini mengusung tema “Harmoni Nusantara: Bersama Kita Kuat – Bersatu Dalam Harapan Indonesia”.
Proses penawaran dipandu langsung oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Osi Dermawan. Dalam tayangan yang diunggah melalui kanal YouTube resmi Partai Demokrat pada Kamis (19/2/2026), antusiasme peserta lelang terlihat tinggi dengan harga pembukaan yang dipatok pada angka Rp200 juta.
Persaingan penawaran berlangsung sengit dan melonjak dalam hitungan menit. Harga lukisan tersebut merangkak naik secara bertahap mulai dari Rp300 juta, Rp400 juta, Rp500 juta, hingga menembus angka Rp1 miliar, Rp1,5 miliar, Rp2 miliar, dan Rp3 miliar.
Penawaran akhirnya berhenti di angka Rp6,5 miliar dengan Low Tuck Kwong sebagai penawar tertinggi sekaligus pembeli akhir. Taipan pertambangan ini dikenal sebagai salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang juga aktif dalam berbagai kegiatan filantropi.
Profil Low Tuck KwongBerdasarkan catatan profilnya, Low Tuck Kwong merupakan pengusaha kelahiran Singapura pada 17 April 1948. Sewaktu muda, tepatnya ketika dia berusia 20 tahun, Low Tuck Kwong pernah bekerja untuk perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura, setelah itu pada 1972, dia memutuskan untuk merantau ke Indonesia demi mendapatkan peluang dan kesempatan yang jauh lebih besar.
Karier bisnisnya berawal di perusahaan konstruksi milik sang ayah, David Low Nyi Ngo. Setibanya di Indonesia, dia melanjutkan kepakaran di bidang yang sama dengan mendirikan perusahaan konstruksi yang menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah, hingga infrastruktur bawah laut.
Langkah ekspansi besar terjadi pada 1988 saat dia mulai mendapatkan kontrak batu bara perdana. Empat tahun berselang, tepatnya pada 1992, Low Tuck Kwong secara resmi mengubah kewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) guna memperkuat pijakan bisnisnya di Tanah Air.
Momentum pertumbuhan berlanjut pada 1997 saat dia mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama. Setahun kemudian, dia mulai mengoperasikan terminal batu bara di Balikpapan sebelum akhirnya membentuk PT Bayan Resources sebagai induk usaha yang kini memegang hak eksklusif melalui lima kontrak pertambangan dan tiga kuasa pertambangan.
Mengacu pada data Wealth History Forbes, kekayaan Low Tuck Kwong sempat berada di fase stagnan di bawah level US$2 miliar sepanjang periode 2015 hingga 2021. Kondisi tersebut mencerminkan pergerakan harga komoditas batu bara global yang relatif lesu pada kurun waktu tersebut.
Situasi berubah drastis pada 2022 dipicu oleh krisis energi global yang mengerek permintaan dari India dan China. Nilai kekayaannya meroket menjadi US$25 miliar pada 2023, dan terus tumbuh hingga mencapai puncaknya di angka US$27,3 miliar pada 2025, menjadikannya salah satu orang terkaya di Asia Tenggara.





