BEKASI, KOMPAS.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto merespons usulan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi yang membuka peluang agar angkutan kota (angkot) dijadikan kendaraan pengumpan (feeder) yang terintegrasi dengan transportasi massal seperti LRT dan Trans Bekasi Keren (Trans Beken).
Tri menegaskan, keberadaan angkot tetap dipertahankan dalam sistem transportasi terintegrasi di Kota Bekasi.
"Pastinya dirangkul itu (angkot). Dan kendaraan seperti Transjabodetabek, Trans Beken, dan Trans Patriot itu butuh penghubung (feeder)-nya untuk kemudian bisa kepada jalan-jalan yang memang sesuai dengan kapasitas daripada kendaraan yang ada," ujar Tri saat ditemui Kompas.com di Plaza Pemkot Bekasi, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: Di Tengah Polemik Trans Beken, Dishub Bekasi Buka Opsi Tata Ulang Trayek Angkot
Namun, Tri mengatakan, keputusan masyarakat untuk menggunakan angkot sebagai moda penghubung sepenuhnya merupakan pilihan warga.
"Dan saya kira itu juga merupakan keinginan warga masyarakat untuk mendapatkan pelayanan angkutan umum yang murah, yang terjamin, dan ada kepastian," kata dia.
Sebelumnya, Kepala Dishub Kota Bekasi Zeno Bachtiar menyatakan bahwa integrasi angkot sebagai feeder sangat memungkinkan.
Terutama untuk menghubungkan kawasan permukiman dengan jalan utama maupun simpul transportasi massal seperti LRT dan Trans Beken.
"Sangat dimungkinkan angkutan kota ini sebagai feeder dan penguatan untuk melayani beberapa titik angkutan umum massal seperti LRT dan lainnya," ujar Zeno saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (15/2/2026).
Selain integrasi, Dishub juga membuka peluang penataan ulang sistem angkot, termasuk peremajaan armada dan pengaturan ulang trayek (re-routing).
"Tentu bisa dikembangkan. Bisa dalam bentuk dilakukannya peremajaan, kemudian dilakukannya re-routing," ungkap Zeno.
Baca juga: Trans Beken Bekasi Diserbu Penumpang, Sopir Angkot Was-was Kehilangan Rezeki
Skema re-routing dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memperpendek trayek, memperpanjang trayek, menggabungkan trayek, hingga menghapus trayek tertentu.
Untuk diketahui, wacana integrasi ini mencuat di tengah polemik pengoperasian Trans Bekasi Keren (Trans Beken) yang memicu protes sopir angkot.
Ratusan sopir angkot sempat menggelar aksi demonstrasi dengan memblokade Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, pada Selasa (10/2/2026) dan Kamis (12/2/2026).
Aksi tersebut dipicu pemberlakuan tarif gratis serta pembukaan jalur baru Trans Beken yang resmi beroperasi sejak 10 Februari 2026.
Para sopir angkot menilai kebijakan tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan usaha mereka.
“Penyebabnya karena ada jalur baru, tetapi belum ada sosialisasi ke trayek yang terdampak sehingga teman-teman angkot merasa keberatan,” kata Wakil Ketua Organda Kota Bekasi, Rm Purwadi, Kamis.
Pemerintah Kota Bekasi menilai integrasi angkot sebagai feeder dapat menjadi solusi jangka panjang guna menciptakan sistem transportasi publik yang terhubung, efisien, dan tetap mengakomodasi pelaku angkutan kota di tengah transformasi layanan transportasi massal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




