VIVA – Di tengah perbedaan keyakinan yang kerap menjadi sumber sekat sosial, SMK Al Hilaal Namlea di Pulau Buru, Maluku, justru menampilkan wajah lain pendidikan Indonesia: keberagaman yang hidup dalam kerukunan.
Sekolah berbasis yayasan Islam ini menaungi 178 siswa. Dari jumlah tersebut, 52 siswa merupakan nonmuslim—terdiri atas 42 siswa Kristen Protestan dan Katolik, 9 Hindu Adat, serta 3 siswa penghayat Animisme. Meski berbeda agama, mereka belajar, berorganisasi, dan beraktivitas bersama tanpa sekat.
Megaria, kepala sekolah SMK Al Hilaal Namlea, menuturkan bahwa prinsip kekeluargaan menjadi fondasi utama kehidupan sekolah, terlepas dari apapun agama maupun status sosial mereka.
"Saya mengayomi mereka seperti seorang ibu. Mereka semua anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi," kata Megaria usai mengikuti Seminar Literasi Keagamaan dan Lintas Budaya (LKLB) yang diselenggarakan Institut Leimena di Ambon, Maluku, Kamis, 12 Februari 2026.
- Ist
Sebagai sekolah Islam, pelajaran agama yang tersedia adalah Pendidikan Agama Islam. Namun siswa nonmuslim tidak pernah dipaksa untuk mengikuti. "Mereka bebas memilih. Bisa tetap di kelas atau ke perpustakaan. Tapi kebanyakan justru memilih tinggal dan mendengarkan," ujar Megaria yang menjabat kepala sekolah SMK Al Hilaal Namlea sejak 2007.
Menurutnya, kehadiran siswa nonmuslim dalam pelajaran agama Islam bukan karena kewajiban, melainkan rasa ingin tahu dan kebersamaan. Tidak ada tekanan, tidak ada pemaksaan.
Begitu pula dalam kegiatan keagamaan seperti Isra Mi’raj, Maulid Nabi, buka puasa bersama, hingga pesantren kilat. Siswa nonmuslim kerap ikut berpartisipasi. "Mereka sendiri yang meminta ikut. Kami memberi kebebasan, tetapi mereka ingin terlibat," tuturnya.
Tiga Penghayat Animisme dan Ruang Kebebasan BerkeyakinanKeberagaman di sekolah ini bahkan mencakup tiga siswa penghayat Animisme yang berasal dari Gunung Rana dan Danau Rana. Mereka adalah anak-anak pedalaman Kecamatan Air Buaya, Pulau Buru, yang mayoritas masih menganut agama kepercayaan nenek moyang.
Meski tinggal di pedalaman, tak menyurut niat para siswa menuntut ilmu, bersekolah di SMK Al Hilaal Namlea yang jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Untuk memudahkan bersekolah, mereka tinggal di asrama dekat sekolah.





