Bisnis.com, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat dalam 10 hingga 15 hari ke depan. Kalau tidak, Teheran mendapat ancaman serangan militer lanjutan di tengah negosiasi yang masih berlangsung.
Berbicara dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, DC, Presiden Amerika Serikat itu menegaskan kembali klaimnya bahwa serangan gabungan Israel-AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu membuka jalan bagi gencatan senjata di Gaza.
Trump berpendapat, tanpa serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, ancaman dari Teheran akan menghalangi negara-negara di kawasan untuk menyepakati perdamaian di Timur Tengah.
“Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kami akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," ujar Trump dikutip dari Al Jazeera, Jumat (20/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah AS dan Iran menggelar putaran kedua perundingan tidak langsung.
Pada Rabu (18/2/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kedua pihak mencatat kemajuan yang baik dalam negosiasi di Jenewa dan mampu mencapai kesepakatan luas atas seperangkat prinsip panduan menuju sebuah perjanjian.
Namun demikian, AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk, termasuk dengan mengerahkan dua kapal induk dan puluhan jet tempur.
Iran, yang membantah tengah mengembangkan senjata nuklir, menyatakan bersedia membatasi pengayaan uranium dan menempatkannya di bawah inspeksi internasional yang ketat.
Akan tetapi, pemerintahan Trump menegaskan menolak segala bentuk pengayaan uranium oleh Iran. Washington juga berupaya membatasi arsenal rudal Teheran, meskipun pejabat Iran menolak memberikan konsesi terkait isu tersebut yang disebut sebagai prinsip pertahanan yang tidak dapat dinegosiasikan.
Pada Kamis (19/2/2026), Trump menyebut utusan diplomatiknya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menggelar pertemuan yang sangat baik dengan perwakilan Iran.
“Kita harus mencapai kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi,” tegasnya.
Pekan lalu, Trump menyatakan AS dan Iran harus mencapai kesepakatan dalam satu bulan ke depan, seraya memperingatkan Teheran akan menghadapi konsekuensi yang sangat traumatis jika gagal melakukannya.
Namun, pejabat Iran menunjukkan sikap menantang terhadap ancaman tersebut. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menulis di platform X bahwa kapal perang AS memang merupakan perangkat militer berbahaya.
“Namun, yang lebih berbahaya dari kapal perang itu adalah senjata yang dapat mengirimkannya ke dasar laut,” tulisnya.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak akhir 2025, ketika Trump, saat menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Desember, berjanji akan kembali menyerang Iran jika negara tersebut berupaya membangun kembali program nuklir atau rudalnya.
Beberapa hari kemudian, aksi protes antarpemerintah meletus di Iran. Trump mendorong para demonstran untuk mengambil alih institusi negara dan menjanjikan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Pada 2018, dalam masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir multilateral yang sebelumnya membuat Iran membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi internasional terhadap perekonomiannya.
Meski perundingan terbaru kembali digelar, retorika ancaman dan sikap saling serang antara Washington dan Teheran masih berlanjut di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung.





