Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah resmi menandatangani perjanjian tarif perdagangan timbal balik antara kedua negara. Indonesia akan memprioritaskan impor komoditas pangan dan energi dari AS sebagai bagian dari implementasi Agreement of Reciprocal Trade (ART) tersebut.
Penandatanganan kesepakatan tarif ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, pada Jumat (20/2) pagi waktu Indonesia.
Airlangga menyebut pembelian komoditas tersebut merupakan turunan dari kesepakatan dagang resiprokal yang sebelumnya juga diperkuat melalui 11 memorandum of understanding (MoU) senilai total US$ 38,4 miliar (Rp 587,41 triliun, kurs Rp 16.880/US$), termasuk komoditas energi, pembelian produk agrikultur, dan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, Indonesia berencana mengimpor gas dan minyak mentah (crude oil) dari AS dengan nilai sekitar US$ 15 miliar (Rp 253,19 triliun) per tahun.
Rosan menyatakan, langkah ini tidak hanya bertujuan menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, serta membuka peluang kerja sama investasi lanjutan di sektor minyak dan gas.
“Kita juga sudah memulai pembicaraan adanya beberapa kemungkinan investasi on the pipeline yang menyangkut di beberapa bidang baik itu di bidang minyak dan gas maupun di bidang-bidang lainnya.” kata dia.
Selain komoditas energi, Airlangga mengatakan, Indonesia juga akan meningkatkan pembelian komoditas pertanian dari AS, terutama gandum dan kedelai. Komoditas tersebut akan diberikan tarif nol persen.
“Sehingga masyarakat Indonesia membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari soybean ataupun wheat, dalam hal ini noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi, masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” kata Airlangga.
Selain itu, pemerintah juga berencana mengimpor jagung dan kapas dari AS. Kapas disebut menjadi bahan baku penting bagi industri tekstil nasional, sementara jagung digunakan untuk kebutuhan pakan dan industri pangan.
Pemerintah berharap penguatan pasokan bahan baku dari AS dapat mendukung daya saing industri dalam negeri, terutama setelah produk tekstil Indonesia memperoleh fasilitas tarif 0% melalui skema tarif kuota dalam perjanjian ART tersebut.




