EtIndonesia. Pada 18 Februari 2026, sebuah video yang beredar luas di platform X (sebelumnya Twitter) menampilkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam sebuah rapat internal pemerintahan.
Dalam potongan video tersebut, Pezeshkian secara tersirat menyampaikan kekecewaan bahwa investasi besar yang sebelumnya dijanjikan Tiongkok kepada Iran belum terealisasi sesuai ekspektasi pemerintah.
Pernyataan itu langsung memicu diskusi luas, terutama terkait komitmen jangka panjang Beijing terhadap Teheran.
Latar Belakang: Perjanjian Strategis 25 Tahun Iran–Tiongkok
Kerja sama yang dimaksud merujuk pada Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun yang ditandatangani pada 27 Maret 2021 antara Iran dan Tiongkok.
Kesepakatan tersebut diperkirakan bernilai sekitar 400 miliar dolar, dengan fokus pada:
- Pengembangan sektor energi dan petrokimia
- Infrastruktur transportasi dan pelabuhan
- Modernisasi jaringan telekomunikasi
- Investasi dalam proyek jalur kereta dan kawasan industri
Namun, sejak diumumkan, implementasi perjanjian berjalan lambat. Sejumlah faktor yang disebut memperlambat realisasi investasi antara lain:
- Sanksi sekunder Amerika Serikat, yang membatasi akses Iran ke sistem keuangan global serta membuat perusahaan asing berhati-hati.
- Risiko geopolitik kawasan, terutama meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
- Kondisi ekonomi domestik Iran, termasuk inflasi tinggi dan volatilitas nilai tukar rial.
Meski perdagangan minyak Iran ke Tiongkok tetap berlangsung, sebagian besar dilakukan melalui mekanisme tidak langsung dan diskon harga, sehingga dampaknya terhadap investasi jangka panjang dinilai terbatas.
Situasi Keamanan: Seruan Evakuasi dari Polandia
Di tengah sorotan ekonomi tersebut, faktor keamanan turut memperkeruh situasi.
Pada 19 Februari 2026, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menyerukan seluruh warga Polandia yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu.
Dalam pernyataannya, Tusk memperingatkan bahwa “kesempatan evakuasi bisa tertutup dalam hitungan jam” apabila situasi memburuk.
Seruan tersebut tidak diikuti dengan rincian ancaman spesifik, namun mencerminkan kekhawatiran sejumlah negara Eropa terhadap potensi eskalasi keamanan di Iran dan kawasan sekitarnya.
Langkah ini mengingatkan pada pola seruan evakuasi serupa yang pernah terjadi pada periode meningkatnya ketegangan regional di masa lalu.
Ledakan di Shahriar: Misteri yang Belum Terjawab
Sebelumnya, pada 18 Februari 2026, media Azerbaijan, News.az, melaporkan terjadinya ledakan besar di sebuah gudang amunisi di wilayah Shahriar, Provinsi Teheran.
Hingga saat ini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai:
- Penyebab ledakan
- Jumlah korban atau kerusakan
- Apakah insiden terkait faktor teknis atau keamanan
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran memang beberapa kali mengalami ledakan misterius di fasilitas industri maupun militer. Secara resmi, banyak di antaranya dikaitkan dengan kebocoran gas atau gangguan teknis. Namun di luar pernyataan resmi, spekulasi mengenai kemungkinan sabotase atau operasi intelijen asing kerap mencuat, meski jarang dikonfirmasi secara terbuka.
Tekanan Berlapis bagi Teheran
Jika dirangkai dalam satu garis waktu:
- 27 Maret 2021: Penandatanganan perjanjian strategis 25 tahun Iran–Tiongkok.
- 18 Februari 2026: Video internal Presiden Pezeshkian beredar, menyinggung lambatnya realisasi investasi.
- 18 Februari 2026: Laporan ledakan gudang amunisi di Shahriar.
- 19 Februari 2026: Polandia menyerukan evakuasi warganya dari Iran.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Iran saat ini menghadapi tekanan di tiga lini sekaligus:
- Ekonomi – Ketergantungan pada investasi luar negeri yang belum sepenuhnya terealisasi.
- Keamanan – Insiden dalam negeri yang memicu kekhawatiran internasional.
- Diplomatik – Meningkatnya kewaspadaan negara-negara Eropa terhadap stabilitas kawasan.
Di tengah sanksi yang masih berlaku dan ketidakpastian regional, Teheran berada dalam posisi yang semakin kompleks: berusaha mempertahankan kemitraan strategis dengan Beijing, sekaligus menavigasi tekanan Barat dan risiko keamanan domestik.
Situasi ini berpotensi menentukan arah kebijakan luar negeri dan stabilitas internal Iran dalam beberapa bulan ke depan.





