El-Fasher: Tim pencari fakta independen yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan adanya dugaan “kampanye penghancuran” oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) terhadap komunitas non-Arab di Darfur, Sudan.
Laporan yang dirilis Kamis, 19 Februari 2026, itu menyebut serangan massal di kota El-Fasher memiliki karakteristik kuat kateogri genosida.
Tim ahli menyatakan RSF, yang tengah berperang melawan militer Sudan, melakukan pembunuhan massal dan berbagai kekejaman setelah pengepungan selama sekitar 18 bulan. Serangan tersebut disebut secara khusus menargetkan komunitas non-Arab, terutama etnis Zaghawa dan Fur.
Dikutip dari France 24, Jumat, 20 Februari 2026, data PBB menunjukkan penaklukan El-Fasher oleh RSF pada akhir Oktober 2024 menyebabkan ribuan warga sipil tewas. Dari sekitar 260.000 penduduk kota, hanya sekitar 40 persen yang dilaporkan berhasil melarikan diri.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat lebih dari 6.000 orang tewas dalam tiga hari, antara 25 hingga 27 Oktober 2024. Sebelum memasuki pusat kota, RSF juga dilaporkan menyerang kamp pengungsi Abu Shouk dan menewaskan sedikitnya 300 orang dalam dua hari.
Berdasarkan Konvensi Genosida 1948, terdapat lima kriteria untuk menetapkan suatu tindakan sebagai genosida. Tim pencari fakta menyimpulkan RSF memenuhi sedikitnya tiga kriteria, termasuk pembunuhan anggota kelompok etnis tertentu, menyebabkan penderitaan fisik dan mental serius, serta menciptakan kondisi yang dapat menghancurkan kelompok tersebut secara fisik.
Ketua tim investigasi, Mohamed Chande Othman, mengatakan operasi RSF menunjukkan pola terencana, bukan sekadar dampak acak konflik bersenjata. Laporan tersebut juga mendokumentasikan pernyataan yang menunjukkan adanya penargetan terhadap kelompok etnis non-Arab.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut temuan itu sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dan menyatakan akan membawanya ke Dewan Keamanan PBB. Ia juga mendesak perhatian internasional yang lebih besar terhadap krisis kemanusiaan di Sudan.
Konflik Sudan yang pecah sejak April 2023 antara militer dan RSF telah menewaskan lebih dari 40.000 orang, menurut PBB. Organisasi kemanusiaan memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa lebih tinggi.
RSF merupakan kelompok paramiliter yang berasal dari milisi Janjaweed, yang sebelumnya juga dituduh terlibat dalam kekerasan massal di Darfur pada awal 2000-an. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Kebakaran Kamp Pengungsi Sudan Paksa 41 Keluarga Mengungsi




