JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan pemerintah tidak terlibat dalam teror yang dialami Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Adrianto, beserta ibunya.
“Oleh karena itulah saya pastikan bahwa teror tidak mungkin dari pemerintah,” kata Pigai saat ditemui di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Dalam hal ini, Pigai menggarisbawahi bahwa dia belum pernah membaca bentuk teror yang dialami oleh Tiyo Adrianto.
“Kita juga tidak tahu siapa yang mengirimkan. Kita juga tidak tahu pelakunya,” jelas dia.
Baca juga: Istana Tidak Tahu Siapa Peneror Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan Ibunya
Kendati demikian, ia kembali menegaskan pemerintah tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan tindakan teror semacam itu.
“Presiden Prabowo telah menegaskan bahwa hukum tidak boleh dipakai oleh penguasa untuk kepentingan atau membungkam hak asasi manusia penduduk Indonesia,” jelas dia.
“Jadi hukum tidak akan pernah dipakai alat penguasa untuk menjustifikasi kebenaran dan membungkam orang. Tidak akan pernah,” tambah dia.
Teror terhadap Ketua BEM UGMDiberitakan sebelumnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Yogyakarta, Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror seusai menyuarakan kasus anak bunuh diri di NTT.
Baca juga: Respons Pihak Istana Kepresidenan soal Teror Terhadap Ketua BEM UGM
Ketua BEM UGM diteror dengan berbagai ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal selama 9-11 Februari 2026.
Salah satu teror yang dialaminya adalah mendapatkan ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026).
Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.
Menurut penuturan Tiyo kedua orang tersebut laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.
Baca juga: Mahfud MD: Surat BEM UGM ke UNICEF Bentuk Kebebasan Berpendapat
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” paparnya.
Meski saat itu sempat dikejar namun dua orang yang diduga melakukan penguntitan kepadanya menghilang.
“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.
Tiyo Ardianto menambahkan bahwa suara yang ia sampaikan dan disebarkan secara luas di media terkait kasus anak bunuh diri di NTT mungkin membuat pihak tertentu tersinggung.
“Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




