Membaca Lonjakan Wisatawan China ke Bromo dalam Perspektif HI

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur terlihat semakin ramai oleh wisatawan mancanegara, khususnya dari China. Jika sebelumnya wisatawan China lebih identik dengan Bali, kini pola tersebut mulai bergeser.

Fenomena ini mungkin terlihat seperti tren pariwisata biasa, tetapi jika dilihat lebih dalam, pergerakan wisatawan sebenarnya juga bisa mencerminkan dinamika hubungan internasional. Pariwisata tidak lagi sekadar soal liburan, melainkan juga bagian dari interaksi ekonomi, diplomasi, dan konektivitas antarnegara.

Secara data, jumlah wisatawan China ke Indonesia memang mengalami peningkatan signifikan setelah pandemi COVID-19 mereda. Pada 2024 tercatat sekitar 1,19 juta kunjungan wisatawan China, naik dari sekitar 787 ribu pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini berlanjut pada 2025 yang mencapai sekitar 1,34 juta kunjungan, angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar wisata China kembali pulih dan menjadi salah satu sumber wisatawan terbesar bagi Indonesia.

Salah satu faktor utama meningkatnya kunjungan ini adalah pemulihan mobilitas global setelah pandemi. Selama beberapa tahun, warga China mengalami pembatasan perjalanan yang cukup ketat. Ketika pembatasan dicabut, terjadi lonjakan besar dalam outbound tourism atau perjalanan ke luar negeri. Asia Tenggara menjadi tujuan favorit karena jaraknya relatif dekat, biaya perjalanan lebih terjangkau, dan memiliki daya tarik alam serta budaya yang berbeda dengan China.

Namun, pertanyaan yang menarik adalah: mengapa Jawa Timur, khususnya Bromo, mulai menjadi tujuan penting? Salah satu jawabannya adalah adanya upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada Bali sebagai pusat pariwisata.

Selama ini, Bali mengalami tekanan overtourism, sehingga pemerintah berusaha menyebarkan wisatawan ke daerah lain agar manfaat ekonomi lebih merata. Dalam konteks ini, Bromo menjadi alternatif yang ideal karena menawarkan lanskap alam yang unik dan berbeda dari pantai-pantai Bali.

Selain itu, faktor konektivitas juga sangat berpengaruh. Pembukaan rute penerbangan langsung dari kota-kota di China menuju Surabaya mempermudah akses wisatawan ke Jawa Timur tanpa harus transit di Jakarta atau Bali. Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia berfungsi sebagai pintu masuk menuju kawasan wisata seperti Malang dan Bromo. Dengan perjalanan darat yang relatif singkat dari Bandara Juanda, destinasi ini menjadi semakin praktis untuk dijangkau wisatawan internasional.

Dari sudut pandang hubungan internasional, kemudahan akses transportasi seperti ini dapat dilihat sebagai bagian dari apa yang disebut connectivity diplomacy. Negara tidak hanya membangun hubungan melalui perjanjian politik atau perdagangan, tetapi juga melalui infrastruktur, penerbangan, dan mobilitas manusia. Jalur wisata secara tidak langsung mempererat hubungan bilateral karena meningkatkan interaksi masyarakat, bisnis lokal, dan jaringan ekonomi lintas negara.

Selain faktor aksesibilitas, karakter wisata Bromo sendiri juga sesuai dengan tren wisatawan China saat ini. Banyak wisatawan China, terutama generasi muda, mulai mencari pengalaman yang lebih unik dan berbasis alam, bukan sekadar wisata belanja atau kota besar. Lanskap vulkanik Bromo yang eksotis, pemandangan matahari terbit, dan budaya lokal Tengger menjadi daya tarik yang kuat. Paket wisata yang menggabungkan Bromo dengan destinasi lain di Jawa Timur juga semakin banyak dipasarkan secara digital, membuat kawasan ini lebih dikenal secara global.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi bentuk soft power. Konsep soft power yang diperkenalkan Joseph Nye menjelaskan bahwa suatu negara bisa membangun pengaruh melalui daya tarik budaya, nilai, dan pengalaman, bukan hanya melalui kekuatan militer atau ekonomi. Dalam kasus ini, Indonesia menggunakan keindahan alam dan keramahtamahan lokal sebagai daya tarik, sementara China melihat pariwisata sebagai cara memperluas koneksi sosial dan ekonomi dengan negara mitra.

Namun, di balik peluang tersebut, ada juga tantangan yang perlu diperhatikan. Ketergantungan terhadap satu pasar wisatawan saja dapat menimbulkan risiko jika terjadi perubahan kebijakan atau kondisi ekonomi di negara asal wisatawan. Selain itu, peningkatan jumlah pengunjung juga harus diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik agar kawasan konservasi seperti Bromo tidak mengalami kerusakan akibat overtourism yang tidak terkendali.

Dalam perspektif yang lebih luas, fenomena meningkatnya wisatawan China ke Jawa Timur menunjukkan bahwa hubungan internasional tidak selalu terjadi di ruang diplomasi formal. Hubungan itu juga terbentuk melalui aktivitas sehari-hari seperti perjalanan wisata, penggunaan transportasi, dan interaksi antar masyarakat. Mobilitas manusia menjadi salah satu indikator bagaimana negara-negara saling terhubung di era globalisasi.

Karena itu, ramainya wisatawan China di Bromo bukan sekadar tren liburan, melainkan bagian dari perubahan pola hubungan Indonesia-China yang semakin kompleks. Pariwisata telah berkembang menjadi jembatan ekonomi, sosial, dan bahkan geopolitik dalam skala yang lebih halus. Jika dikelola dengan baik, fenomena ini bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jaringan pariwisata regional sekaligus meningkatkan kesejahteraan daerah.

Pada akhirnya, Gunung Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol bagaimana hubungan internasional dapat hadir dalam bentuk yang paling sederhana: perjalanan manusia melintasi batas negara untuk saling mengenal, berinteraksi, dan membangun keterhubungan baru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Umumkan Tarif Impor Baru 10 Persen, Berlaku Selama 150 Hari Mulai 24 Februari
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Revitalisasi Taman Semanggi Telan Anggaran Rp 134 Miliar, Bukan dari APBD
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
DPR RI Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif dalam Penutupan Masa Persidangan III 2025-2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Selly Andriany Desak Hukuman Maksimal untuk Bripka Masias Siahaya Usai Penganiayaan Pelajar di Maluku Tenggara
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Kasus Kekerasan Seksual di Jakarta Selatan Mandek dan Ada Intimidasi, Komnas PA Mengadu ke LPSK
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.