VIVA – Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Kirsty Coventry, buka suara soal keterlibatan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam peluncuran Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Coventry menegaskan IOC akan “menyelidiki” tindakan Infantino tersebut, mengingat seluruh anggota IOC terikat sumpah untuk selalu bertindak independen dari kepentingan politik. Infantino dan Coventry sama-sama tercatat sebagai bagian dari 107 anggota IOC yang wajib memegang prinsip netralitas politik.
Seperti diketahui, Trump menggelar acara peluncuran Board of Peace di Washington DC, Kamis waktu setempat. Dalam agenda itu, Infantino hadir dan menandatangani kemitraan atas nama FIFA, yang berpotensi mengalirkan dana hingga 75 juta dolar AS untuk proyek sepak bola di Gaza.
Kehadiran Infantino di acara tersebut langsung memantik sorotan. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, FIFA dinilai semakin dekat dengan pemerintah Amerika Serikat. Menjelang Piala Dunia 2026, Infantino tercatat menghadiri pelantikan Trump, beberapa kali berkunjung ke Gedung Putih, hingga ke Mar-a-Lago.
Amerika Serikat sendiri akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, dengan turnamen berformat 104 pertandingan yang dimulai pada 11 Juni.
“Piagam Olimpiade sangat jelas mengenai apa yang diharapkan dari para anggotanya. Kami akan meneliti dugaan penandatanganan dokumen tersebut,” ujar Coventry dalam konferensi pers terakhirnya di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.
Coventry mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa Infantino tampil menonjol dalam acara Board of Peace. “Sekarang setelah rekan-rekan media menyampaikan hal ini, kami akan melihatnya lebih lanjut,” katanya.
IOC sendiri memiliki anggota dari berbagai latar belakang, termasuk Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani dan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat, Princess Reema bint Bandar Al Saud.
Nama Indonesia juga tercatat dalam keanggotaan IOC melalui Erick Thohir, yang saat ini menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga. IOC sebelumnya sempat menegur Indonesia terkait sikap penolakan terhadap keikutsertaan atlet Israel di Kejuaraan Dunia Senam.
Sementara itu, Coventry sendiri memiliki latar belakang politik. Ia pernah menjabat sebagai menteri olahraga di Zimbabwe sebelum terpilih pada Maret lalu sebagai presiden perempuan pertama dalam sejarah IOC.





