Mata Uang Asia Babak Belur di Hadapan Dolar AS, Jepang Paling Parah!

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia — Mayoritas pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sampai perdagangan Jumat pekan ini (20/2/2026) terpantau melemah.

Hanya Ringgit Malaysia yang terpantau menguat dalam sepekan sebesar 0,13%, sementara yang lain masih dalam zona koreksi, termasuk rupiah yang melemah 0,21% ke posisi Rp 16.860/US$. Di sisi lain, Yen Jepang paling parah, melemah sampai 1,62% dalam seminggu.

Sementara ada dua mata uang Asia yang stagnan yaitu Yuan China dan Dong Vietnam. 

Dinamika pelemahan mata uang Asia tidak lepas dari pergerakan indeks dolar AS

Penguatan DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi dolar AS, yang didukung ekspektasi kebijakan hawkish dari Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Risalah rapat terbaru FOMC (Federal Open Market Committee) yang dirilis 18 Februari menunjukkan bahwa mayoritas pejabat Fed sepakat menahan suku bunga pada level 3,50 %-3,75 %, setelah serangkaian pemangkasan di akhir tahun lalu.

Baca: Tarif Trump Tidak Sah, Harga Emas Naik Tembus US$ 5000 Lagi!

Namun, isi rapat juga mengungkapkan adanya perdebatan internal yang cukup kuat terkait arah kebijakan selanjutnya.

Beberapa pejabat masih membuka ruang bagi potensi penurunan suku bunga bila inflasi benar-benar mereda, sementara yang lain bahkan menyatakan bahwa jika inflasi tetap di atas target, kenaikan suku bunga di masa depan tetap menjadi opsi yang layak dipertimbangkan.

Di sisi lain, risiko perang antara AS-Iran semakin memanas, hal ini berisiko menaikkan harga minyak dan emas yang bisa berimplikasi pada inflasi tetap ketat tahun ini.

Kondisi ini membuat pasar global tetap berhati-hati, karena kestabilan suku bunga dan potensi perubahan arah kebijakan di kemudian hari akan menjadi key driver bagi aliran modal, nilai tukar, dan aset berisiko seperti ekuitas.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengguna Angkutan Umum Mudik Lebaran di Jatim Diproyeksi Meningkat Jadi 7,7 Juta Orang
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Paloh Ungkap NasDem Konsisten Usul Ambang Batas Parlemen 7%, Ini Alasannya
• 5 jam laludetik.com
thumb
12 Tersangka PETI di TN Tanjung Puting Kalah Praperadilan, Hakim Tolak Permohonan
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kawan Indonesia Heran Ada Kelompok Terus Bangun Narasi Negatif terhadap TNI
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Tiga Juta Penerima Bansos Baru Belum Cair, Kemensos Ungkap Penyebabnya
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.