Laut pagi itu tenang. Terlalu tenang untuk sebuah zaman yang gemar memburu segala sesuatu dengan tamak. Di permukaannya, sebuah perahu kayu kecil mengapung pelan. Empat lelaki berdiri dan duduk mengitari sebuah anyaman bambu raksasa, sebuah bubu, perangkap ikan yang nyaris hilang dari banyak perairan Nusantara.
Di saat banyak kapal datang dengan mesin besar, jaring pukat, bom, atau racun, orang-orang dari Pulau Palue memilih menunggu. Bagi mereka, laut bukan medan perang. Ia adalah ruang hidup yang harus diajak sabar.
Bubu bambu itu berukuran sekitar dua kali satu meter. Dianyam dengan tangan, dirakit dengan teknik turun-temurun, dan diturunkan ke dasar Laut Flores hingga kedalaman belasan meter. Tidak ada umpan. Tidak ada bunyi mesin yang meraung. Hanya anyaman bambu yang perlahan ditumbuhi lumut, berubah menjadi “rumah” kecil bagi ikan-ikan.
“Kami tidak pakai umpan,” kata Oktafianus Woko (42), nelayan dari Kampung Bhako, Desa Ladolaka, Palue. “Kalau pakai umpan, hiu datang. Bubu rusak. Ini seperti rumah ikan.”
Bubu bambu itu ibarat rumah yang memerangkap, tetapi tidak serakah.
Mulut bubu dibuat seperti corong yang menyempit ke dalam. Ikan-ikan berukuran besar yang masuk tak bisa keluar lagi. Namun celah-celah anyaman sengaja dibiarkan cukup renggang agar ikan kecil lolos. Mereka tidak mengambil semua. Mereka menyisakan masa depan.
Satu kelompok nelayan biasanya memiliki puluhan bubu yang dibenamkan sekaligus. Empat hari bubu itu dibiarkan di dasar laut. Setiap hari, sekitar sebelas bubu diangkat. Para nelayan menyelam untuk menariknya dari dasar. Saat anyaman itu muncul ke permukaan, ikan-ikan menggelepar dalam cahaya matahari pagi, kuning, merah, perak, warna-warna yang menandai keberlanjutan, bukan kehancuran.
Pulau Palue sendiri adalah pulau gunung api di utara Flores. Tanahnya keras, air tawarnya kurang, namun lautnya luas. Untuk bertahan, mereka berkelana. Selama beberapa bulan, para nelayan bubu meninggalkan Palue dan bermukim sementara di pesisir Maumere, sekitar empat jam perjalanan laut, untuk memasang perangkap dan menjual hasil tangkapan.
Ketika monsun baratan datang, antara Desember hingga Maret, mereka pulang. Bukan untuk berhenti, tetapi untuk membuat bubu-bubu baru. Menganyam kembali bambu. Menjaga pengetahuan yang kini makin sedikit pewarisnya.
“Tidak semua orang bisa buat bubu,” kata Chois Baga (30), nelayan muda Palue. “Ada teknik dan ritualnya. Hasil pertama dari bubu bambu ini juga tidak boleh dijual, harus dimakan sendiri atau dibagi-bagi sampai habis.”
Kini hanya dua kampung di Palue yang masih mempertahankan tradisi ini: Ladolaka dan Nara. Sekitar 30 nelayan yang masih bisa membuat bubu. Angka yang kecil untuk sebuah pengetahuan yang besar.
Setelah seharian di laut, mereka biasa pulang membawa puluhan ikat ikan. Hari itu, mereka berhasil membawa 60 ikat ikan segar--masing-masing 3-5 ekor per ikat. Ikan itu dijual Rp 30.000 per ikat.
Hasilnya tidak selalu banyak. Kadang satu bubu hanya berisi dua atau tiga ekor. Namun mereka bilang cukup. Cukup untuk makan, cukup untuk dijual, cukup untuk kembali melaut esok hari.
Siang harinya, ikan-ikan itu ditusuk dan dipanggang di atas bara tempurung kelapa. Asap tipis membubung di bawah pohon ketapang. Laut tetap tenang, seolah tidak pernah kehilangan apa-apa.
Di tengah krisis perikanan global, ketika penangkapan berlebih dan praktik merusak terus menghantui laut Indonesia, kisah bubu Palue bukan sekadar romantisme tradisi. Ia adalah metode tangkap selektif, pasif, rendah energi, dan nyaris tanpa limbah. Tidak menyapu dasar laut. Tidak menjerat terumbu. Tidak membunuh yang tak ditargetkan.
Ia bekerja dengan waktu. Empat hari di dasar laut, tanpa tergesa. Esai foto ini bukan hanya tentang teknik menangkap ikan. Ia tentang cara memandang laut: apakah sebagai tambang yang harus dikuras, atau sebagai rumah yang harus dihuni bersama.
Di atas perahu kecil itu, di laut yang nyaris tak beriak, mereka memilih menunggu. Dan laut, sejauh ini, masih menjawab.





