Di sudut musala Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta, Egi Jordi (22 tahun) dan Fajar Kustiyono (18 tahun), tengah khusyuk membaca Alquran, Sabtu (21/2).
Mereka membaca dengan jemari yang meliak-liuk di atas Alquran braille. Keduanya memang tunanetra. Keterbatasan tak pernah menyurutkan semangatnya. Termasuk mempelajari agama.
"Ini per juz. Kalau dikumpulkan 30 juz bisa satu kardus (alqurannya)," kata Egi yang berasal dari Muara Enim, Sumatera Selatan.
Berbeda dengan alquran pada umumnya yang dicetak 30 juz. Alquran braille dicetak per juz. Alquran braille tak memungkinkan dicetak 30 juz karena akan terlalu tebal.
Yaketunis adalah rumah anak-anak tunanetra belajar. Mereka dibekali ilmu untuk mengarungi kehidupan dan meraih cita-cita. Termasuk bekal ilmu agama.
Fajar yang berada di samping Egi juga membaca alquran. Fajar yang berasal dari Semarang Jawa Tengah turut menunjukkan sejumlah iqro. Itulah yang jadi bekal Fajar dan Egi mengajari teman-temannya sesama tunanetra.
Egi dan Fajar datang ke Yaketunis pada 2022. Mereka saat ini duduk di kelas 12 atau kelas tiga SMA.
Keduanya sudah memiliki bekal kemampuan membaca alquran sebelum masuk ke Yaketunis. Sejak 2023, mereka dipercaya untuk turut mengajari teman-teman dan adik-adiknya membaca alquran.
"Saya sudah bisa alquran. Saya jadi guru TPA-nya. Ngajar adik-adik. Ada kurang lebih tujuh orang yang jadi murid saya," kata Egi.
Egi mengatakan beberapa tantangan yang dirasakan selama mengajari teman-temannya untuk bisa mengaji. Pertama perbedaan kemampuan satu sama lain. Sehingga membimbingnya pun harus menyesuaikan.
Egi mengenalkan teman-temannya terlebih dahulu dengan iqro. Ini untuk memudahkan mereka belajar membaca.
"Mereka juga ada yang tahap bisa membaca, ada yang belum sama sekali, ada yang belum hafal huruf sama sekali. Tipe-tipe gitu. Jadi kita harus bisa mana yang didahulukan, mana yang diberi perhatian lebih," katanya.
Senang Teman Bisa Baca AlquranMembaca alquran, menurut Egi, susah-susah gampang. Namun ketika telaten maka tak butuh waktu satu tahun untuk bisa membaca alquran.
Ada beberapa temannya yang sudah berhasil menyelesaikan iqro enam dan naik tingkat ke membaca alquran.
"Pasti senang. Kalau kita jadi guru kebanggaan terbesar kita ketika murid kita lebih hebat dari kita," katanya.
Sementara itu Fajar mengaku memang sudah bisa membaca alquran ketika masuk yayasan. Atas kemampuannya, itu dia diberi tugas menjadi guru pendamping.
"Sama ngajar tapi di bawah arahan guru utama. Biasanya fokus membimbing yang sama sekali belum bisa membaca," kata Fajar.
Fajar banyak membimbing teman-temannya dari nol. Diakuinya ada beberapa kesulitan yang dihadapi. Teman-teman yang dia bimbing ada yang masih SMP ada yang SMA.
"Lumayan soalnya harus sabar ngajarin yang lambat," katanya.
Saat ini Fajar sudah hafal satu juz alquran. Dia berharap kelak bisa hafal 30 juz. Metode menghafalnya adalah dengan membaca atau mendengarkan murotal.
"Sama saja. Tergantung kondisi (menggunakan metodenya)," ucapnya.
Ingin Kuliah di Universitas BrawijayaKedua sahabat ini selepas lulus SMA ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Tepatnya di Universitas Brawijaya, Malang.
"Kebetulan sama tujuannya ke Malang," kata Egi.
Egi mengaku akan mengambil jurusan antara ilmu hukum dan ilmu politik. Sementara Fajar ingin mengambil jurusan sosiologi.
Mengenal YaketunisIbu Asrama Yaketunis, Siti Aminatun, mengatakan Yaketunis berdiri tahun 1964, pendiri utamanya adalah Supardi Abdussomad. Visi misinya untuk mengangkat harkat martabat tunanetra.
"Jadi Bapak Supardi itu tunanetra juga," kata Amin.
Di sini ada sekitar 86 anak didik yang belajar di sini. Sebanyak 38 anak di antaranya bermukim di asrama. Mereka belajar di sini dari jenjang SD sampai SMA.
"Dari lulusan sini banyak yang menjadi ASN, dosen, ada yang S3 UGM, seperti itu. Kebetulan beliau semua sudah pada ngajar di mana-mana," katanya.
Dia mengatakan banyak anak-anak berasal dari luar kota seperi Bengkulu, Palembang, Aceh, dan daerah lainnya.
Yaketunis memiliki visi membentuk kemandirian anak-anak tunanetra serta mampu berperan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.





