Serangan Tanpa Jeda! Energi Rusia Disasar, Pertahanan Udara Diuji Maksimal

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang jauh lebih dinamis dan intens. Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Ukraina mengumumkan keberhasilan merebut kembali sekitar 130 kilometer persegi wilayah dalam operasi serangan balasan terkini.

Namun laporan kantor berita AFP menyebutkan bahwa dalam kurun lima hari saja, pasukan Ukraina bahkan berhasil menguasai sekitar 200 kilometer persegi wilayah, yang disebut sebagai kemajuan paling signifikan dalam dua setengah tahun terakhir sejak perang memasuki fase stagnasi panjang.

Perkembangan Medan Tempur: Zaporizhzhia, Dnipro, dan Tekanan di Pokrovsk

Operasi militer Ukraina terkonsentrasi di beberapa sektor penting. Di wilayah Zaporizhzhia dan sepanjang garis Sungai Dnipro, sejumlah permukiman berhasil direbut kembali dari kendali pasukan Rusia.

Meski demikian, situasi di arah Pokrovsk tetap menjadi titik tekanan berat. Rusia dilaporkan meningkatkan intensitas serangan artileri dan manuver darat di sektor tersebut. Sementara itu, aktivitas militer Moskow di perbatasan wilayah Sumy juga meningkat, memunculkan kekhawatiran akan pembukaan front tekanan baru di utara.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 13 Februari 2026 menegaskan bahwa Kyiv tidak akan menyerahkan wilayah Donbas dalam perundingan apa pun. Dia menuduh Moskow berupaya meraih melalui diplomasi apa yang gagal dicapai di medan perang.

Serangan 2.000 Kilometer: Operasi Jarak Terjauh Sejak Perang Dimulai

Salah satu perkembangan paling mengejutkan terjadi pada 12 Februari 2026, ketika Ukraina melancarkan serangan terhadap sebuah kilang minyak di wilayah Rusia yang berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Serangan ini diperkirakan menjadi operasi udara jarak terjauh yang dilakukan Kyiv sejak perang dimulai pada 2022. Target infrastruktur energi tersebut dinilai memiliki nilai strategis tinggi dalam mendukung logistik militer Rusia.

Analis militer menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi “perang kedalaman” (deep strike warfare), yaitu menghantam pusat-pusat logistik dan industri pertahanan jauh di belakang garis depan.

Ledakan di Wilayah Leningrad dan Gelombang Serangan Drone

Sekitar 17 Februari 2026, ledakan dilaporkan terjadi di wilayah Leningrad, Rusia. Sebuah bangunan yang dikaitkan dengan fasilitas militer runtuh akibat insiden tersebut.

Beredar laporan tidak resmi yang menyebut dua perwira tinggi tewas dalam insiden tersebut, meskipun otoritas Rusia tidak memberikan rincian yang jelas.

Di saat bersamaan, Krimea kembali mengalami gelombang serangan drone besar-besaran. Beberapa pangkalan militer dan fasilitas pertahanan udara menjadi sasaran. Kilang minyak di wilayah Krasnodar Krai juga dilaporkan terbakar.

Data militer menunjukkan bahwa dalam 48 hari pertama tahun 2026 saja, Ukraina telah menyerang lebih dari 240 target militer Rusia. Dalam satu bulan terakhir, tercatat 32 gelombang serangan terhadap sistem energi Rusia, termasuk:

Strateginya dinilai jelas: melumpuhkan rantai logistik, memperlemah produksi militer, serta meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow.

Isu “Skuadron F-16 Internasional” dan Peran Pilot Asing

Muncul pula kabar mengenai pembentukan skuadron tempur Ukraina yang melibatkan pilot asing, termasuk mantan penerbang dari Amerika Serikat dan Belanda. Skuadron ini disebut-sebut dengan julukan “Macan Terbang F-16 Internasional”.

Meski juru bicara Angkatan Udara Ukraina membantah pembentukan resmi unit tersebut, sejumlah analis menilai keterlibatan pilot asing secara terbatas bukan hal yang mustahil dilakukan secara tertutup.

Jet tempur F-16 memiliki keunggulan dalam patroli malam serta intersepsi drone dan rudal jelajah. Pada 12 Februari 2026, sistem pertahanan udara Patriot Ukraina dilaporkan berhasil mencegat dua rudal balistik Iskander-M Rusia—sebuah capaian penting di tengah meningkatnya intensitas serangan udara.

Tekanan Energi dan Sanksi Ekonomi

Selain tekanan militer, faktor ekonomi juga semakin mempersempit ruang gerak Rusia. Pada pertengahan Februari 2026, Kroasia mengumumkan penghentian pengiriman minyak Rusia melalui pelabuhannya ke Hongaria, kecuali jika minyak tersebut bukan berasal dari Rusia.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi sanksi energi Eropa yang semakin ketat.

Kini, Moskow menghadapi tekanan ganda:

  1. Serangan presisi jarak jauh yang menggerus infrastruktur vital.
  2. Tekanan ekonomi dan energi yang mempersempit akses pasar dan jalur distribusi.

Fase Baru Perang: Dari Garis Depan ke Perang Sistemik

Konflik Rusia–Ukraina kini tidak lagi sekadar perebutan garis depan. Perang telah bergeser ke fase yang lebih kompleks—menggabungkan serangan kedalaman, sabotase infrastruktur, pertahanan udara berlapis, serta tekanan ekonomi internasional.

Jika sebelumnya pertempuran identik dengan perang posisi yang stagnan, perkembangan Februari 2026 menunjukkan dinamika baru yang lebih agresif dan terkoordinasi.

Pertanyaan besar kini muncul: Apakah tekanan dua arah—militer dan ekonomi—akan memicu eskalasi yang lebih luas? Atau justru mendorong kedua pihak menuju keseimbangan baru yang membuka ruang negosiasi?

Situasi terus berkembang dengan cepat, dan dunia kini menyaksikan babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bayi Tidak Banyak Merangkak, Apakah Tanda Autisme? Ini Kata Dokter!
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Gibran: 11 Juta Santri Ponpes Kekuatan Sosial-Ekonomi Masa Depan
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Gempa M 4,6 Guncang Tangerang Malam Ini, Berpusat di Darat
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Ngamuk Kebijakannya Dianulir MA, Umumkan Tarif Baru 10 Persen untuk Semua Negara
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Respons Donald Trump Usai Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global: Mengecewakan!
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.