Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan komoditas mineral kritis tetap wajib melakukan hilirisasi meski Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART) dalam pertemuan bilateral di Washington, DC.
Penegasan itu disampaikan di tengah dinamika geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis yang memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung internasional.
Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menjadi momentum penting dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara melalui kesepakatan dagang tersebut.
Kerja sama itu bagi Indonesia bukan sekadar perjanjian perdagangan, melainkan strategi memastikan kekayaan mineral kritis nasional tidak diekspor dalam bentuk mentah.
Komitmen Hilirisasi Tetap BerlakuPemerintah menegaskan setiap peluang investasi yang lahir dari ART harus bermuara pada hilirisasi dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh bangsa Indonesia.
Indonesia menganut asas ekonomi bebas aktif dengan memberikan ruang investasi yang sama kepada seluruh negara, termasuk Amerika Serikat, dengan tetap mematuhi peraturan yang berlaku di Indonesia.
"Untuk mineral kritikal, kami telah bersepakat untuk memfasilitasi bagi pengusaha-pengusaha yang ada di AS untuk melakukan investasi, dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam negara kita. Kita juga akan memberikan prioritas untuk mendukung, memfasilitasi dalam rangka eksekusi. Termasuk, dalamnya ada investasinya," ungkapnya saat memberikan keterangan pers di Washington.
Ia menegaskan tidak ada perubahan kebijakan terkait ekspor mineral mentah karena pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program hilirisasi nasional dan tidak ada rencana membuka ekspor barang mentah.
"Jadi, katakanlah mereka membangun smelter di Indonesia untuk nikel, kita akan dorong, kita akan kasih ruang yang sebesar-besarnya, sama juga dengan negara lain. Jadi, jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah. Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa diekspor. Biar clear nih, biar tidak ada salah interpretasi," tegasnya.
Skema Investasi dan Kerja Sama TerbukaBahlil mencontohkan investasi PT Freeport Indonesia yang membangun fasilitas smelter tembaga senilai hampir 4 miliar dolar AS sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Pola serupa dinilai dapat diterapkan pada pengembangan mineral kritis lain seperti nikel, logam tanah jarang, dan emas.
Pemerintah menawarkan dua skema investasi bagi perusahaan Amerika Serikat, yakni eksplorasi langsung oleh perusahaan asal AS atau melalui kemitraan dan joint venture dengan badan usaha milik negara Indonesia.
"Begitu mereka sudah berproduksi dan membangun smelter atau hilirisasinya, maka hak mereka untuk mengekspor ke Amerika," tambahnya.
Indonesia juga membuka ruang kerja sama bagi negara lain dalam pengembangan mineral kritis dan menegaskan kebijakan tersebut tidak bersifat eksklusif.
"Kita berikan ruang sama juga dengan negara-negara lain, jadi equity treatment perlakuan setara saja," tegasnya.




