jpnn.com - Politikus Gerindra Arief Poyuono merespons pihak-pihak yang merecoki program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Surat cinta untuk para profesor dan politisi serta tokoh-tokoh yang menghina program MBG yang diselenggarakan Prabowo Subianto," kata Arief melalui keterangan tertulis, Sabtu (21/2/2026).
BACA JUGA: Arief: Makan Bergizi Gratis adalah Strategi Sishankamrata
Arief yang menyebut diri ekonom jalanan, mengatakan bahwa program MBG itu dalam teori ekonomi makro ada pada posisi investasi.
"Bukan pada posisi belanja negara atau government expenditure," ujarnya.
BACA JUGA: Anggota Brimob Bripda MS Tersangka Penganiayaan Pelajar di Tual hingga Korban Meninggal
Menurutnya, pengeluaran pemerintah (government expenditure) adalah belanja negara (APBN/APBD) untuk menyediakan layanan publik, infrastruktur, dan operasional pemerintahan yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.
"Tidak sama dengan program MBG yang ada di posisi investasi," ucapnya.
BACA JUGA: Penjelasan Kejari Batam soal Kasus ABK Fandi Dituntut Mati terkait Narkoba
Arief menyebut investment (investasi) dalam PDB atau Produk Domestik Bruto (GDP) mengacu pada pengeluaran untuk pembelian barang modal baru yang bertujuan meningkatkan kapasitas produksi di masa depan.
Hal itu mencakup pembelian mesin, peralatan, pembangunan pabrik, gedung, serta penambahan inventaris (stok) bisnis, bukan pembelian aset keuangan seperti saham.
Sementara, kata Arief, pengaruh MBG berdampak pada kecepatan pertumbuhan ekonomi daripada government expenditure, seperti pembangunan infrastruktur yang banyak meninggalkan utang yang berakibat memberatkan fiskal.
"Sebab, keberadaan MBG memutar uang lebih cepat dalam aktivitas perekonomian dibandingkan belanja negara, sehingga berdampak pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Menurut Arief Poyuono, sistem pembayaran pada penyelenggara MBG dilakukan untuk belanja kebutuhan pendukung makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dengan sistem cash on carry.
"Seperti belanja sayuran telur, tepung terigu, tempe, tahu, susu, daging, dan ikan, kan, bayarnya cash. Jadi, ekonomi berputar cepat," ujarnya.
Hal itu menurutnya berbeda dengan kontraktor proyek negara yang menyediakan bahan bakunya dengan cara berutang dahulu, termasuk oleh BUMN-BUMN Karya.
"Jelas, kan, keterkaitan MBG dalam ilmu ekonomi makro," kata Arief Poyuono yang juga komisaris Pelindo.(fat/jpnn)
Video Terpopuler Hari ini:
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




