Melawan Spekulan di Bulan Ramadan

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Memasuki bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada tantangan klasik, yakni lonjakan harga bahan pangan pokok yang signifikan. Kenaikan harga bahan pangan sudah seperti tradisi tahunan  atau lebih tepat disebut 'penyakit kambuhan'. Presiden berganti, namun tidak ada satu pun yang mampu menyudahi tren kenaikan harga tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, komoditas cabai rawit merah menjadi penyumbang kenaikan paling mencolok. Di Pasar Santa, Jakarta Selatan, harga cabai rawit melonjak menjadi Rp120.000 per kg dari harga normal Rp80.000. Kondisi serupa terjadi di Tuban, Jawa Timur, di mana harga merangkak dari Rp60.000 menjadi Rp100.000 per kg. Bahkan di Bandung, harga cabai dilaporkan naik hingga dua kali lipat sehari menjelang puasa.

Tidak hanya bumbu dapur, harga protein hewani pun ikut terkerek:

  • Daging Sapi: Di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, harga naik menjadi Rp140.000 per kg. Di Bekasi, kenaikan rata-rata mencapai Rp10.000 per kg.
  • Daging Ayam & Telur: Harga ayam potong naik sekitar Rp5.000 per ekor, sementara telur ayam di Bekasi dan Jakarta menembus angka Rp32.000 hingga Rp33.000 per kg.
  • Sayuran: Kebutuhan dasar seperti bayam dan kangkung juga mengalami kenaikan dari Rp5.000 menjadi Rp8.000-Rp10.000 per ikat.
      Baca juga: Indonesia Diharap Swasembada Semua Komoditas Pangan
Para pedagang menyebutkan bahwa faktor cuaca dan musim hujan menjadi pemicu utama berkurangnya pasokan dari produsen yang membuat barang sulit didapat. Namun, di sisi lain, pemerintah mencatat bahwa stok sebenarnya berada dalam kondisi aman dan berlimpah.

Ketidaksesuaian antara stok yang aman dengan harga yang tinggi di pasar memicu dugaan adanya praktik spekulasi dan penimbunan. Praktik ini biasanya terjadi saat pasokan sengaja ditahan di tengah melonjaknya permintaan rumah tangga untuk persiapan jamuan hari raya.

Kenaikan ini menjadi beban berat, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Data Badan Pusat Statistik per September 2025 mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 8,25?ri total penduduk Indonesia. Bagi mereka, kenaikan harga pangan bukan sekadar fluktuasi angka, melainkan ancaman langsung terhadap kualitas nutrisi harian. Banyak rumah tangga terpaksa memangkas konsumsi atau mengalihkan anggaran pendidikan dan kesehatan demi memenuhi kebutuhan makan.

Merespons situasi ini, Satgas Pangan dari berbagai wilayah mulai bergerak melakukan inspeksi mendadak (sidak). Pekan ini Tim Satgas Pangan Polresta Sidoarjo bersama Badan Pangan Nasional melakukan pengecekan di Pasar Tradisional Larangan untuk memantau harga ayam dan cabai.

Sementara itu, di wilayah hukum Polda Metro Jaya, pemantauan dilakukan setiap hari di minimal 46 titik pasar tradisional maupun ritel modern selama Ramadan hingga Idulfitri. Satgas Pangan menegaskan akan mengambil langkah preventif berupa teguran hingga sanksi berat.

"Jika setelah diberikan teguran mereka masih menjual dengan harga yang tidak sesuai, maka akan direkomendasikan untuk dicabut izinnya," tegas Kasubdit Indag Polda Metro Jaya, AKBP Muhammad Ardila. 

Masyarakat dan pedagang berharap agar pengawasan harga dilakukan secara konsisten oleh pemerintah agar daya beli tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan selama bulan suci.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terima Dubes Yassir Mohamed, Baznas Perkuat Sinergi Bantuan Kemanusiaan untuk Sudan
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Oknum Brimob Diduga Aniaya Siswa hingga Tewas di Tual, Pelaku Ditahan
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Air Dingin vs Air Hangat Saat Buka Puasa, Mana yang Lebih Baik? Ini Penjelasan Dokter Tirta
• 3 jam lalugrid.id
thumb
6 Arti Mimpi Menjadi Lebih Muda, Tanda Rindu Masa Lalu atau Ketakutan Menua?
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Populer: AS Minta Syarat Halal Dilonggarkan; MA Batalkan Tarif Trump
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.