Tidak ada yang lebih menakutkan bagi orang dewasa selain memulai dari nol. Apalagi setelah pernah berada di puncak.
Dia adalah Dwi Widianti. Hari-harinya kini dipenuhi aroma bawang yang ditumis pelan, uap nasi yang mengepul, dan notifikasi pesanan di telepon genggamnya. Wanita kelahiran tahun 80-an itu adalah pelaku UMKM Aisyah Catering. Namun kisahnya tidak bermula dari dapur, bukan pula dari kecintaan masa kecil pada dunia masak-memasak.
Kisahnya bermula dari sebuah perpisahan dengan panggung politik yang pernah dia pijak di Situbondo.
“Sebelum buka usaha di catering, saya sebelumnya di legislatif di Anggota DPRD Kabupaten Situbondo dari fraksi PPP tahun 2009. Setelah itu, pada 2015 saya mencalonkan jadi kepala desa, dan jadi kepala desa (selama) satu periode. Di Desa Buduan, Kabupaten Situbondo juga. Setelah itu baru saya ke Surabaya dan memulai usaha di catering,” kata Dwi saat ditemui suarasurabaya.net di Surabaya, Kamis (19/2/2026).
Ibu dari tiga anak itu menuntaskan jabatan yang dipercayakan kepadanya. Tidak ada yang terputus, tidak ada yang runtuh. Bahkan ketika kesempatan untuk melanjutkan karier politik terbuka, dia tetap memilih berhenti dan fokus memperdalam ilmu agama.
“Sebelum hijrah ke Surabaya, saya mau dicalonkan sebagai wakil bupati Situbondo. Namun saya sendiri ingin tenang dulu,” katanya.
Dwi tahu persis arti keputusan itu: melepas penghasilan tetap, fasilitas, dan nama yang telah terlanjur dikenal.
“Kalau saya keluar, orang-orang di Situbondo tahu kalau saya itu pernah punya jabatan di sana. Rasanya kok tidak nyaman. Tapi kalau pakai masker, orang tidak kenal saya. Jadi ke mana-mana lebih nyaman,” ujarnya.
Namun dia juga paham bahwa bertahan dalam sesuatu yang tak lagi menghadirkan ketenangan adalah cara lain untuk perlahan kehilangan diri sendiri.
Tekatnya bulat untuk hijrah dan pindah ke Surabaya sekitar lima tahun lalu.
“Ingin lebih dekat untuk mengurus keluarga. Setelah berkarier beberapa tahun di politik, saya sering meninggalkan anak, keluarga, kurang fokus. Akhirnya coba tidak melanjutkan lagi. Sebenarnya ingin cari ketenangan dulu. Ternyata kok enak ya, jadi keterusan akhirnya,” imbuhnya.
Wanita yang tahun ini genap berusia 46 tahun tersebut memulai kisahnya di Surabaya dengan belajar memasak dan membuka usaha catering.
“Tidak ada kegiatan itu tak enak. Akhirnya coba-coba catering dan kebetulan memang dari keluarga saya sendiri semua usahanya seperti itu. Jadi, akhirnya ikut-ikutan. Alhamdulillah ada rezeki,” kata Dwi.
Kini di dapur di daerah Menanggal, Surabaya, ibu tiga anak itu tidak lagi menghitung jumlah suara, melainkan ratusan nasi kotak yang harus tiba tepat waktu.
Dia juga lebih akrab dengan daftar belanja bahan pokok daripada agenda rapat. Dari ruang sidang yang riuh, dia berpindah ke dapur yang mengepul.
Dwi Widianti pelaku UMKM Aisyah Catering saat memasak pesanan di Menanggal, Surabaya, Kamis (19/2/2026) Foto: Rizal Pandya Yudareswara Mg suarasurabaya.netJustru di sana, di antara wajan, rempah, dan kerja yang tak lagi disorot lampu panggung, dia menemukan sesuatu yang dulu sulit didapatkan: keutuhan.
“Kadang kita seperti anggota dewan dituntut jam segini harus rapat. Memang ada jeda untuk salat, namun karena kadang pulang dari rapat itu malam hari, jadi tidak sempat untuk salat malam,” pungkasnya.
Sementara itu bagi Arif Rahman, sang suami, Dwi adalah sosok yang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Katanya, apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan dengan baik. Pesanan tidak boleh terlambat. Rasa tak boleh berubah. Janji harus ditepati.
Sering kali Dwi terlalu fokus pada pekerjaan dan mengesampingkan kondisi fisiknya yang tak lagi mampu. Dalam situasi seperti itu, Arif menjadi figur yang mengingatkannya untuk berhenti sejenak, menarik napas, duduk, dan beristirahat
“Kalau memang udah tidak mampu, jangan terus dipaksa,” ungkapnya.
Kunci ketenangan dan rezeki, menurut Dwi, datang dari bersyukur dan percaya pada Allah SWT. KH. M. Sudjak Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, menegaskan bahwa rezeki sering datang dari arah tak terduga.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberi jalan keluar terbaik, dan rezeki yang tidak diduga-duga,” kata Sudjak di Masjid Al-Akbar Surabaya, Kamis (19/2/2026).
Bersyukur, menurut Dwi, juga berarti melihat orang-orang yang berada di bawah kita secara finansial, bukan selalu membandingkan dengan mereka yang di atas. “Supaya bersyukur. Banyak orang yang sehari-hari berjuang hanya untuk makan. Kalau kita bisa membuka usaha, itu sudah rezeki,” ujarnya.
Kini, di antara wajan, rempah, dan aroma masakan, Dwi Widianti menemukan yang dulu sulit diperoleh: keutuhan dan ketenangan hidup. (lea/saf/iss)




