Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Puasa sebagai ibadah dimaknai lebih dari sekadar menahan lapar dan haus. Esensi puasa diharapkan bisa lebih mendalam untuk pengendalian diri. Puasa mengajarkan pada tiap individu untuk menahan hawa nafsu, mengelola emosi, serta menjaga lisan dan perbuatan.

Dari perspektif psikologis, puasa juga bisa memberikan dampak yang baik dalam proses regulasi diri. Hal itu berpengaruh pada emosi, fungsi kognitif, dan keseimbangan mental. Dampak ini tidak hanya pada puasa religius, melainkan juga puasa lain seperti intermittent fasting.

Saat individu secara sadar membatasi makan yang dikonsumsi, suasana hati atau mood akan lebih terjaga, kontrol impuls juga meningkat, sekaligus bisa memperkuat makna hidup yang dimiliki. Karena itu, puasa bisa menjadi sarana untuk detoksifikasi psikologis.

Dokter spesialis jiwa di Pusat Kesehatan Jiwa Rumah Sakit dr H Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, dihubungi di Jakarta, pada Kamis (19/2/2026), menuturkan istilah detoksifikasi psikologis terkait puasa bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik.

Jadi, istilah detoksifikasi psikologis terkait dengan puasa menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental. Proses tersebut mungkin selama ini terlalu penuh dengan distraksi dan tekanan.

Baca JugaPuasa untuk Jiwa dan Tubuh
Baca JugaPuasa, Kedewasaan, dan Korupsi
Baca JugaPuasa Raga Memperkaya Iman di Masjid Kauman

“Puasa adalah sarana detoksifikasi jiwa. Yang ditahan bukan hanya rasa lapar, tetapi juga emosi, ego, impulsivitas, dan pikiran yang berisik. Puasa adalah ibadah yang memberikan jeda bagi raga untuk membersihkan yang berlebihan, sehingga jiwa kembali seimbang,” tuturnya.

Dalam ilmu kesehatan jiwa, regulasi emosi berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. Puasa melatih individu untuk menghadapi rasa tidak nyaman, seperti rasa lapar, lelah, ataupun keinginan, tanpa langsung bereaksi.

Istilah detoksifikasi psikologis terkait puasa bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, melainkan menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental.

“ Ketika seseorang mampu menahan dorongan, bagian otak yang berfungsi sebagai rem emosi yakni prefrontal corteks menjadi lebih aktif. Hal ini membantu mengurangi reaksi impulsif, meningkatkan kesabaran, serta memberi ruang bagi respons yang lebih sadar,” tuturnya.

Sikap menahan diri itu bisa dilatih dengan melatih napas perlahan saat emosi mulai naik. Selain itu, seseorang bisa menunda respons terhadap pesan atau konflik hingga emosi lebih stabil. Puasa dapat melatih perasaan untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi terhadap sesuatu.

Lahargo menyampaikan, puasa pun turut membangun diri untuk mengatasi stres secara spiritual atau yang dikenal dengan spiritual coping. Cara ini dapat menguatkan makna dan harapan secara lebih baik.

Saat berpuasa, hal itu biasanya disertai dengan praktik spiritual lain seperti berdoa, sembahyang, membaca kitab suci Al Quran, dan refleksi diri. Dalam psikologi, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari spiritual coping untuk mengatasi tekanan hidup.

Sejumlah penelitian menunjukkan, individu yang mempraktikkan coping spiritual cenderung memiliki perasaan akan makna hidup lebih kuat dibandingkan yang tidak menjalaninya. Tingkat harapan hidup juga lebih baik serta kemampuan diri menerima situasi sulit pun bisa lebih tenang.

Perbaikan diri

Puasa yang dijalani secara sehat dapat pula membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan ritme hidup. Studi mengungkapkan bahwa orang yang berpuasa akan menunjukkan perbaikan diri dalam menghadapi stres dan kesejahteraan psikologis.

Proses itu berkaitan dengan regulasi dari hormon stres, peningkatan resiliensi, serta kemampuan menghadapi tekanan tanpa merasa kewalahan. Untuk mendukung manfaat itu, seseorang bisa melakukan beberapa aktivitas, misalnya berjalan atau olahraga ringan jelang berbuka serta mengurangi paparan berita atau media sosial yang memicu stres.

Baca JugaBerpuasa untuk Memberi Kenyamanan
Baca JugaBerpuasa Menyejukkan Kepala dan Hati
Baca JugaBerpuasa di Tengah Bencana

“Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Saat pola lama berhenti sejenak, otak menemukan ruang untuk bertumbuh,” kata Lahargo.

Ia menambahkan, puasa merupakan praktik nyata dari delay of gratification. Dalam psikiatri, kemampuan menunda dorongan diri berkaitan erat dengan kesehatan mental dalam jangka panjang. Manfaat yang bisa didapatkan mulai dari mengurangi perilaku impulsif di kemudian hari, membantu pengambilan keputusan yang lebih matang, serta meningkatkan disiplin diri.

Oleh karena itu, saat makan, terutama saat berbuka sangat disarankan untuk bisa makan secara bermakna dengan makan secara perlahan dan sadar. Saat puasa, seseorang tidak hanya melatih perut, namun juga kemampuan diri untuk berkata cukup.

Relasi sosial biasanya bertumbuh pula ketika berpuasa. Seringkali, puasa diiringi dengan kegiatan berbagi dengan sesama dan menjalin silaturahmi bersama. Berbuka puasa dilakukan bersama keluarga, teman, dan kerabat. Lewat relasi hangat, seseorang dapat merasakan empati lebih dalam, koneksi emosional yang kuat, serta rasa memiliki dalam komunitas.

Hal itu disampaikan pula oleh psikolog klinis Universitas Indonesia, Dini Rahma Bintari. Puasa mempunyai manfaat lain bagi kesehatan mental lewat kebiasaan bersedekah dan menyalurkan zakat. Aktivitas sedekah dan zakat tak hanya membantu orang lain, tapi juga meningkatkan kebahagiaan diri sendiri.

Orang akan lebih bahagia saat merasa berkontribusi dalam meringankan beban orang lain. Ketika berbagi, jaring pengaman sosial yang dimiliki akan semakin kuat. Seseorang juga bisa lebih bersyukur serta mengurangi rasa takut dan cemas yang selama ini dialami.

Dengan menjalankan puasa secara holistik, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga merasakan dampak positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan mental. Puasa dapat menjadi kesempatan untuk melatih manajemen emosi, meningkatkan empati, serta merenungkan makna hidup.

“Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menemukan makna hidup yang lebih dalam,” kata Dini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf Resmikan 41 SPPG untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis di Lombok Barat
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Kemenag Bangun Madrasah Terintegrasi di IKN, Butuh Lahan 21 Hektare
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Tarif Trump Dibatalkan, Importir AS Kejar Kepastian Refund US$175 Miliar
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Kehangatan Berbuka Takjil Bergizi di Masjid Jogokariyan
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Tuntutan Mati Enam Terdakwa Penyelundupan Sabu Hampir 2 Ton di Batam Dinilai Sudah Sesuai Undang-Undang
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.